News

Krisis Sudan Makin Parah, Banjir Tewaskan Puluhan Orang dan Ribuan Lainnya Mengungsi

×

Krisis Sudan Makin Parah, Banjir Tewaskan Puluhan Orang dan Ribuan Lainnya Mengungsi

Sebarkan artikel ini
FotoJet 1 1
Seorang wanita tua di antara puing-puing dekat kota Abu Hamad di Sudan utara. (Foto: Samira Hassan/AP)

Sudan yang sudah menghadapi berbagai krisis dan menewaskan puluhan orang, kini diterjang banjir besar.

Menurut kementerian dalam negeri, setidaknya 68 orang tewas di Sudan akibat hujan lebat yang melanda berbagai wilayah sepanjang tahun ini.

Curah hujan yang tinggi, yang tercatat sebagai yang terderas sejak 2019, telah menyebabkan banjir di wilayah barat, utara, dan timur Sudan, menghancurkan rumah, pertanian, dan infrastruktur.

Sekitar 27.000 orang telah mengungsi sejak Juni akibat banjir ini. Demikian laporan PBB.

Di kota Rokero, yang terletak di wilayah Jebel Marra, negara bagian Darfur Barat, sedikitnya 12 orang tewas.

Abdallah Hussein Adam, seorang pemimpin adat setempat, mengatakan bahwa biasanya wilayah Jebel Marra tidak mengalami banjir. Meskipun hujan turun deras, air biasanya mengalir dengan baik. Namun, tahun ini situasinya berbeda.

Baca Juga  Dua Warga Bekasi Tewas Tersetrum Saat Banjir, Pemkot Janji Evaluasi Sistem Kelistrikan

Adam mengatakan, sembilan jasad telah ditemukan, sementara tiga orang masih hilang.

Jebel Marra adalah daerah pertanian, dan Adam khawatir bahwa banjir akan mengurangi hasil produksi.

“Tahun lalu hasil pertanian kami menurun karena kurangnya hujan dan konflik, dan tahun ini kami juga tidak bisa memanen karena banjir. Ini akan menyebabkan kelaparan; harga barang-barang telah naik tiga kali lipat” katanya Rabu, 14 Agustus 2024.

Sekitar 50.000 keluarga tinggal di Jebel Marra, termasuk ribuan orang yang mengungsi akibat konflik yang dimulai tahun lalu antara tentara Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter, yang telah membawa kehancuran besar.

Baca Juga  Skandal Kemenaker Terus Bergulir, KPK Sita 9 Kendaraan

Sekitar 16.000 orang tewas dalam perang saudara ini, yang telah menyebabkan krisis pengungsian terbesar di dunia, dengan jutaan orang mengungsi baik di dalam maupun di luar negeri.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional telah menuduh pihak-pihak yang bertikai melakukan pemerkosaan massal dan kekejaman lainnya.

Konflik ini juga menyebabkan setengah dari populasi mengalami kerawanan pangan, dan banyak yang terancam kelaparan. Hujan deras memperburuk situasi, menyulitkan upaya penyaluran bantuan.

Awal bulan ini, sebuah organisasi pemantau kelaparan dunia mengumumkan adanya bencana kelaparan di sebuah kamp pengungsian di luar El Fasher, ibu kota Darfur.

Baca Juga  Polres Indramayu Jaga Keamanan Pengungsi Banjir Kertawinangun

Othman Belbeisi, direktur regional untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di Organisasi Internasional untuk Migrasi, menyatakan bahwa kombinasi kelaparan, banjir, dan tantangan lainnya telah memperburuk krisis kemanusiaan di Sudan hingga mencapai titik kritis yang sangat berbahaya.

“Tanpa respons global yang segera, masif, dan terkoordinasi, kita mungkin akan menyaksikan puluhan ribu kematian yang sebenarnya bisa dicegah dalam beberapa bulan mendatang,” katanya.

AS memimpin upaya mediasi untuk mengakhiri konflik di Sudan yang telah berlangsung hampir 16 bulan, namun belum ada konfirmasi dari pihak-pihak yang bertikai terkait partisipasi mereka dalam pembicaraan gencatan senjata yang dijadwalkan berlangsung pada hari Rabu 14 Agustus di Swiss.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *