KITAINDONESIASATU.COM – Polri diminta untuk memperketat SOP dan pengawasan senjata api (senpi) yang selama ini digunakan oleh para anggotanya. Hal itu menyusul banyaknya fenomena penyalahgunaan senpi yang dilakukan oleh oknum polisi.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengatakan, polri memang harus tetap dibekali senjata api karena tingkat kriminal yang terjadi di tanah air masih sangat tinggi dan sadis. Kalau seandainya polri tidak mengantongi senjata api, rasanya mustahil.
“Namun polri harus memperketat SOP dan pengawasan penggunaan senjata api hal ini karena maraknya fenomena penyalahgunaan senpi oleh oknum anggotanya,* kata Sahroni, yang dikutip Selasa (10/12).
Dikatakan politisi partai Nasdem ini, dengan adanya fenomena penyalahgunaan senpi oleh oknum Polri harus disikapi dengan segera jajaran Polri terutama dalam meningkatkan pengawasan dan evaluasi penggunaan senjata api.
Anggota Polri memang masih membutuhkan senpi, mengingat begal, pembunuhan, pencurian, masih marak di mana-mana. Terutama satuan Reskrim harus tetap memiliki senpi untuk memberikan efek psikologis kepada para pelaku kriminal di lapangan
“Yang perlu diperhatikan adalah penggunaannya. Harus diawasi ketat psikologis pemegangnya dan dilakukan screening ketat secara berkala,” ujar Sahroni.
Sahroni menilai, nantinya polisi yang membawa senpi merupakan mereka yang stabil secara mental dan profesional dalam bekerja. Memang tidak semua anggota bisa membawa senpi bagi mereka yang urusannya tidak berhadapan dengan potensi kriminal yaitu pelayanan masyarakat
“Tapi untuk yang berhadapan dengan pelaku kriminal, apalagi bandar-bandar narkoba yang kerap melawan kalau ditangkap, itu tetap mesti bawa senpi. Kalau tidak aparat kalah sama pelaku kejahatan,” ungkap pria asal Tanjung Priok ini.
Sahroni juga berharap kepada para aparat, untuk tidak bertindak gegabah dalam melihat suatu kejadian. Jangan sampai kejadian yang saat ini terjadi dibeberapa daerah kembali terulang.
“Yang paling penting saya ingatkan kepada seluruh aparat, untuk tidak bertindak secara gegabah. Jangan membuat keputusan asal, nyawa orang taruhannya,” tutup Sahroni. (*)



