KITAINDONESIASATU.COM – Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, menyoroti dampak negatif hilirisasi terhadap lingkungan.
Ia mengingatkan kementerian dan pemerintah daerah untuk tetap memperhatikan isu lingkungan yang dihadapi masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat menjadi seperti tikus mati di lumbung padi. Daerah mereka menghasilkan banyak devisa bagi negara, tetapi kesejahteraan mereka justru terabaikan, bahkan ekosistemnya terancam,” ujar Ratna, seperti ditulis Parlementaria pada Kamis, 5 Desember 2024.
Menurut Ratna, ketika industri ekstraktif didirikan, nilai ekonomi dari ekosistem yang dikorbankan sering kali jauh lebih besar dibandingkan investasi perusahaan tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan akademisi dalam proses hilirisasi.
“Saya berharap pemerintah melibatkan akademisi yang independen untuk memberikan pertimbangan lebih komprehensif mengenai perkembangan hilirisasi di Indonesia,” tambah politisi dari Fraksi PKB ini.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi. Satgas ini bertugas menciptakan iklim investasi yang kondusif di Indonesia.
Satgas Hilirisasi akan mengkaji regulasi yang menghambat investasi dan menggantinya dengan aturan yang lebih baik. Satgas ini melibatkan berbagai kementerian teknis, termasuk Kementerian Kehutanan, Perikanan, Pertanian, dan Perindustrian.- ***


