KITAINDOESIASATU.COM – Pendakwah Gus Miftah menuai kritik tajam di media sosial akibat komentarnya yang dianggap menghina seorang penjual es teh saat ceramah salawatan di Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu, 20 November 2024.
Dalam ceramahnya, Gus Miftah bertanya kepada Sunhaji, seorang penjual es teh di tengah hadirin, lalu menyuruhnya menjual dagangan dengan nada bercanda yang dianggap kasar.
Ucapannya, “Es teh kamu masih banyak? Ya sana dijual, Goblok!” memicu gelombang hujatan dari berbagai pihak.
Menyadari kesalahannya, Gus Miftah segera mendatangi Sunhaji di rumahnya pada 4 Desember 2024 untuk meminta maaf.
BACA JUGA : Gus Miftah, dari Dakwah Marjinal Mendekat Kekuasaan
Gus Miftah menjelaskan bahwa ucapannya hanyalah candaan, dan Sunhaji pun menerima permintaan maaf tersebut.
Silsilah dan Klaim Keturunan Gus Miftah
Gus Miftah, yang bernama asli Miftah Maulana Habiburrahman, dikenal sebagai pendakwah yang menyampaikan ceramah di tempat-tempat tak lazim seperti klub malam dan lokalisasi.
Ia juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Yogyakarta.
Dalam silsilahnya, Gus Miftah mengaku sebagai keturunan ke-9 dari Kiai Muhammad Besari, ulama besar asal Ponorogo, Jawa Timur.
Bahkan, ia menyatakan dirinya adalah keturunan ke-18 dari Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit.
Klaim ini diperkuat oleh Mbah Tjuk, seorang kerabat keluarga, meski ada beberapa bagian silsilah yang tercecer dalam catatan.
“Ayah saya Muhammad Murodi punya bapak Kiai Muhammad Usman, punya bapak Kiai Muhammad Boniran, punya bapak Kiai Jalal Iman, punya bapak Kiai Karyonawi, punya ibu Nyai Madaru, punya bapak Kiai Ilyas, punya bapak Kiai Muhammad Besari. Dihitung berarti saya nomor 9 dari Mbah Muhammad Besari,” ujar Gus Miftah.
“Pangeran Demang II punya bapak namanya Pangeran Demang I, punya bapak namanya Susuhunan Wirasmoro, punya bapak namanya Panembahan Praworo, punya bapak namanya Sultan Trenggono, punya bapak namanya Raden Fatah, punya bapak namanya Prabu Brawijaya. Kalau diurutkan, Miftah keturunan 18 dari Prabu Brawijaya,” kata dia lagi.
Namun, klaim ini mendapat kritik dari Gus Najih, putra almarhum Mbah Maimun Zubair.
Ia mempertanyakan penggunaan gelar “Gus” pada Miftah, yang menurutnya tidak berasal dari keluarga kiai.
