KITAINDONESIASATU.COM-Pemerintah Kota Cilegon memastikan bonus untuk 120 atlet berprestasi Kota Cilegon bakal cair pada bulan Desember ini. Bonus itu akan diberikan kepada para atlet yang berhasil meraih medali di ajang Pekan Paralympic Pelajar Daerah (Peparpeda) Banten VIII 2024 dan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XI Banten 2024.
Hai itu diungkapkan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Cilegon, Sakri Jasiman.
“Total anggaran yang dialokasikan untuk para atlet sebesar Rp 656 juta yang berasal dari APBD Kota Cilegon melalui anggaran perubahan dan ditargetkan selesai disalurkan pada akhir Desember ini,” kata Sakri, kemarin.
Pada gelaran PEPARPEDA Banten VIII 2024, Kota Cilegon mencatat 5 atlet peraih medali emas, 5 peraih perak, dan 4 peraih perunggu. Sementara itu, dari POPDA XI Banten 2024, Kota Cilegon membawa pulang 27 medali emas, 31 medali perak, dan 48 medali perunggu.
“Untuk peraih medali emas bonusnya sebesar Rp 10 juta, peraih medali perak bonusnya sebesar Rp 5 juta, dan untuk peraih medali perunggu bonusnya sebesar Rp 3 juta, termasuk disabilitas juga. Kita enggak membedakan besarnya bonus yang diberikan,” ujar Sakri.
Sakri berharap proses pencairan bonus yang telah sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota dapat segera terealisasi pada Desember dan langsung disalurkan ke rekening masing-masing atlet. “Kita mengajukan dulu. Keinginan saya kalau ada simbolis penyerahan sudah sekalian. Enggak cash, tapi langsung transfer ke rekening atlet masing-masing,” katanya.
Dalam pelaksanaan Forprov lalu, nasib pilu menimpa sejumlah atlet olahraga tradisional (Oltrad) asal Kota Cilegon yang berlaga di Festival Olahraga Masyarakat Provinsi (Forprov) I Banten. Mereka terpaksa berangkat ke lokasi lomba di Anyer, Serang, secara mandiri tanpa dukungan dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) maupun rekomendasi resmi dari Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Cilegon.
Keempat atlet cabang Bola Sundul itu berjuang dengan modal sendiri. Bahkan, mereka harus berangkat enam orang berboncengan menggunakan sepeda motor. “Kami tidak bisa mewakili Kota Cilegon secara resmi karena tidak mendapat surat rekomendasi dari Kormi. Akhirnya kami berangkat atas nama klub Oltrad atau Inaorga (Induk Organisasi Olahraga) dengan biaya sendiri,” ungkap Ida, salah satu atlet.
Selain harus merogoh kocek pribadi, para atlet Bola Sundul mengaku menghadapi perlakuan diskriminatif dari panitia Forprov. Ida menceritakan bahwa timnya yang seharusnya meraih posisi runner-up justru hanya diberikan gelar juara III oleh oknum panitia.
“Kami sudah mengeluarkan uang sendiri untuk bensin, dan ketika kami seharusnya menjadi runner-up, panitia memaksa kami menerima juara III. Ini benar-benar menyakitkan bagi kami yang sudah berlatih keras,” keluh Ida.


