Lifestyle

Nasi Punel Bangil Patut Dicoba Buat Kulineran Akhir Pekan ini

×

Nasi Punel Bangil Patut Dicoba Buat Kulineran Akhir Pekan ini

Sebarkan artikel ini
nasi punel
Nasi punel khas Bangil Pasuruan dalam kemasan daun pisang. foto: sanjoto prio djatmiko

KITAINDONESIASATU.COM – Jawa Timur memiliki segudang makanan dan kuliner yang khas dan sangat banyak, salah satunya Nasi Punel Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Kota Bangil merupakan khawasan yang khas karena banyak dihuni masyarakat keturunan Arab, yang mempengaruhi kultur hingga kuliner di kawasan ini.

Aneka macam kuliner di kawasan ini dengan berbagai menu yang khas Arab hingga khas kuliner Jawa maupun kombinasi Jawa-Arab.

Kali ini ajan mencoba mengicipi Nasi Punel khas Bangil, yang memiliki rasa dan kelezatan yang tiada tara enaknya.

Berbicara soal nasi punel di Jawa Timur dimana lagi yang bisa mengalahkan soal kepunelan dan kelezatannya selain di kota kecil Bangil Pasuruan.

Makanan ini rasanya nikmat sekali sehingga siapa saja yang pernah merasakannya akan ketagihan untuk mengulang kembali.

Berita kuliner lainnya: Resto dan Cafe Prompt, Racikan Bisnis Kuliner dengan Pengusaha Tambang Batubara

Tampilannya sederhana namun rasanya luar biasa, dengan campuran aneka lauk, dengan tekstur nasi yang pas menghasilkan perpaduan hidangan yang nikmat.

Keunikan nasi punel Bangil merujuk kepada nasi yang dimasak sehingga menghasilkan tekstur yang matangnya pas, tidak lembek dan tidak juga keras.

Kata punel sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya beras yang dimasak jadi nasi yang dikondisikan menjadi empuk dan pulen mirip ketan tapi lebih halus.

Nasi punel Bangil dilengkapi dengan beraneka ragam pilihan lauk. Ada ayam goreng, tahu tempe, hingga aneka jerohan sapi ikan, udang ditambah sambal yang rasanya lebih nikmat.

Pada nasi punel diberikan juga taburan kelapa kering atau serundeng dan bumbu parutan kelapa yang dibungkus daun pisang berbentuk kecil.

Gurih dari kelapa yang dicampur dengan bumbu-bumbu pilihan jadilah serundeng yang melengkapi cita rasa dari seporsi nasi punel Bangil.

Terkadang sambal di nasi punel Bangil dicampur dengan potongan sayuran kacang panjang kecil-kecil.

Dengan demikian cita rasa sambalnya menjadi tidak terlalu pedas menyengat sehingga masih layak untuk dinikmati bersamaan dengan nasi punel dan lauk-lauk yang ada.

Kebanyakan lauk-pauk nasi punel diolah dengan cara digoreng. Teknik memasak itu menghasilkan lauk-pauk yang kering di luar dan lembut di dalam sehingga banyak yang menyukainya, apalagi jika disantap saat dalam keadaan hangat.

Lauknya ada ayam goreng, tahu, tempe goreng. Ada pula pilihan jeroan sapi yang cocok untuk lauk teman nasi punel diantaranya babat, usus, ati, ampela, dan lain sebagainya. Bagi para pengidap beberapa penyakit dalam memang sangat tidak dianjurkan.

Tapi bagi yang badannya sehat jiwa dan raga sangat rekomended banget untuk dicoba, karena semuanya enak.

Beberapa warung nasi punel yang rekomended untuk dicoba di kota kecil Bangil antara lain:

1.Nasi punel Hj. Lin, alamat di Jl. Jaksa Agung Suprapto atau di depan kantor Telkom Bangil.

  1. Nasi punel Hj. Dahlia, alamat di Jl. R.A. Kartini No. 14 Bangil.
  2. Depot nasi punel Setia Budi, berlokasi di Jl. Gajahamada No. 7, Pogar, dekat tikungan jalan keluar Bangil menuju Surabaya.
  3. Nasi punel Bu Nik, berada di Jl. Dr. Soetomo No.24, Dermo, Bangil.

Harga nasi punel yang dijual sangat terjangkau mulai dari Rp10 hingga Rp30 ribuan, tergantung lauk yang diambil.

Kebanyakan dari warung-warung itu menjual nasi punel beralaskan daun pisang baik makan ditempat atau dibungkus untuk dibawa pulang.

Sepulang dari pasar buah Pasrepan sempatkan mampir ke salah satu warung nasi punel Bangil.

Kalau ke bu Lin sudah sering mampir kali ini coba ke depot nasi punel Setia Budi.

Pesan seporsi pakai lauk usus sapi, ternyata racikan menunya sedikit berbeda dengan bikinan bu Lin.

Ada semacam gudeg nangkanya dan rasanyapun manis gurih mirip gudeg Jogja.

“Wahhh …… ternyata nuikmat rasanya, nasinya betul-betul “mak nul” ketika dikunyah, terasa lembut di lidah dan nggleser saja ketika ditelan kemudian melewati usus dalam tubuh,” ujar Sanjoto penggemar kuliner Jawa Timur.

Menurt Sanjoto sulit dituliskan dalam kata soal kenikmatannya, potongan usus sapinya terasa gurih nikmat, ditambah minuman segelas es blewah. Terasa lebih matap.

Yang unik gelasnya terbuat dari seng yang di cat lorek hijau putih model gelas zaman penjajahan tempo dulu. **

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *