KITAINDONESIASATU.COM – Sebuah studi dalam Geophysical Research Letters mengusulkan penggunaan debu berlian sebagai solusi untuk mengatasi pemanasan global.
Para ilmuwan dari ETH Zurich menyarankan menyemprotkan sekitar 5 juta ton debu berlian buatan manusia ke atmosfer setiap tahun, yang dapat menurunkan suhu global hingga 1,6°C dalam 45 tahun.
Debu ini lebih efisien dalam memantulkan sinar matahari dibandingkan aerosol lain dan tidak memiliki dampak lingkungan berbahaya seperti sulfur dioksida.
Namun, biaya implementasinya diperkirakan mencapai $200 triliun, jauh lebih tinggi daripada metode lain.
Debu berlian dapat memantulkan sinar matahari berkat sifat fisiknya yang unik.
Partikel berlian memiliki kemampuan reflektif tinggi, yang memungkinkan mereka untuk memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa, mirip efek yang terjadi setelah letusan gunung berapi.
Dalam penelitian, debu berlian menunjukkan efisiensi yang lebih baik dibandingkan dengan aerosol lain, dan tidak bereaksi secara kimia di atmosfer, sehingga tidak menyebabkan masalah lingkungan seperti hujan asam.
Proses injeksi debu berlian ke stratosfer dilakukan melalui metode yang dikenal sebagai Stratospheric Aerosol Injection (SAI).
Dalam metode ini, sekitar lima juta ton debu berlian disemprotkan setiap tahun ke atmosfer. Partikel berlian, yang diproses menjadi nanopartikel, memiliki kemampuan tinggi untuk memantulkan sinar matahari, mirip dengan efek pendinginan yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi.
Sejauh ini belum ada negara satu pun di dunia yang melakukan uji coba menggiunakan debu berlian, karena biayanya yang luar biasa mahal.
Selain debu berlian dan sulfur dioksida, beberapa alternatif untuk mengurangi pemanasan global sedang dieksplorasi.
Beberapa kandidat yang diteliti termasuk:
Kalsit
Partikel ini dapat memantulkan sinar matahari dan lebih aman dibandingkan sulfur dioksida.
Aluminium
Juga memiliki potensi untuk digunakan dalam injeksi aerosol.
Silikon Karbida
Menunjukkan kemampuan reflektif yang baik.
Titanium Dioksida
Dikenal karena kemampuannya dalam memantulkan cahaya, meskipun lebih sering digunakan dalam aplikasi lain.
Masing-masing alternatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dievaluasi lebih lanjut dalam konteks dampak lingkungan dan biaya. *





