Sosok

Pangdam Termuda Ini Pernah Mengecat Wajahnya Dengan Kotoran

×

Pangdam Termuda Ini Pernah Mengecat Wajahnya Dengan Kotoran

Sebarkan artikel ini
pangdam termuda
Mayjen Achiruddin Darojat (kiri) menjadi Pangdam termuda dan diikuti Mayjen Rudi Saladin sebagai Pangdam termuda kedua. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM-Ada dua Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) yang usianya relatife muda atau baru memasuki angka 4. Umurnya hanya selisih hitungan hari, kendati satu Abituren Akmil 1997.  Dua Pangdam tersebut adalah Mayjen TNI Achiruddin Darojat yang lahir di Jakarta, 15 November 1975. Sedangkan Mayjen Rudy Saladin lahir di Ujung Pandang, 17 September 1975.

Saat ini Mayjen TNI Achiruddin Darojat mendapat amanah sebagai Pangdam VI/Mulawarman. Jabatan Pangdam tersebut diterima mulai pertengahan Oktober 2024. Dia menggantikan seniornya Mayjen Tri Budi Utomo yang diangkat menjadi Sekjen Kemhan.

Mayjen Achiruddin yang minggu depan usianya menginjak 49 tahun merupakan Abituren Akmil 1997 dari kecabangan Infanteri (Kopassus). Dia tercatat sebagai Pangdam termuda di Indonesia yang aktif menjabat. Saat berada di Korps Baret Merah, dia menjadi Asintel Danjen Kopassus (2018-2019) dan Wadanjen Kopassus (2022-2023). Kemudian, dia juga pernah bertugas sebagai Komandan Paspampres di era Presiden Jokowi. Jabatan tersebut diduduki Achiruddin setelah menggantikan Rafael Granada Baay pada November 2023.

Mutasi tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1264/X/2024 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia tertanggal 18 Oktober 2024. 

Perjalanan karier pria kelahiran Jakarta pada 15 November 1975 ini sangat cemerlang selama di TNI AD. Mengawali kariernya dengan menjabat sebagai Danyon 812/Bantuan Sat 81 Gultor Kopassus (2012–2014), Achiruddin Darojat ditugaskan menjadi Dandim 0506/Tangerang dan Kasrem 052/Wijayakrama (2017). 

Tak lama setelah itu, Achiruddin ditarik kembali ke Korps Baret Merah yang telah membesarkan namanya dengan mengemban amanat sebagai Wadansat 81 Gultor Kopassus (2017–2018). 

Setahun kemudian, Achiruddin Darojat mendapat kepercayaan menduduki jabatan Asintel Danjen Kopassus hingga 2019. Kariernya semakin bersinar ketika ditunjuk menjadi Dan Grup A Paspampres (2019–2021). 

Grup A Paspampres adalah satuan jajaran Pasukan Pengamanan Presiden, grup ini bermarkas di Jakarta. Dari Istana, Achiruddin Darojat lalu ditugaskan menjadi Pamen Denma Mabesad (2021–2022), Danrem 074/Warastratama (2022), dan Danrem 052/Wijayakrama (2022). Posisinya sebagai Danrem 052/Wijayakrama sekaligus mengantarkannya pecah bintang menjadi jenderal bintang satu.

Tahun 2022-2023 merupakan masa keemasan dalam karier militer Achiruddin Darojat. Selain naik pangkat menjadi Brigjen, dia juga mendapat promosi menjadi Wadanjen Kopassus. Menjabat dari 4 November 2022 hingga 29 November 2023 menjadi orang nomor dua Korps Baret Merah, Achiruddin Darojat lantas mendapat kepercayaan mengisi jabatan Danpaspampres.

Menjadi Danpaspampres ke-30, Achiruddin Darojat kemudian mendapat kenaikan pangkat satu tingkat menjadi jenderal bintang dua alias Mayor Jenderal (Mayjen). 

Alumni SMA Taruna Nusantara, Magelang, ini juga tercatat memiliki riwayat pendidikan yang gemilang. Mulai dari Sesarcabif, Komando, Dik PARA, Dik Free Fall, Dik Gultor, Diklapa I, Selapa II, Seskoad, dan Sesko TNI.

Selain itu, Achiruddin Darojat juga menyandang sejumlah brevet dari dalam dan luar negeri seperti Brevet Kualifikasi Komando Kopassus, Brevet Free Fall, Brevet Para Dasar, Brevet Kualifikasi Penanggulangan Teror (Gultor), Pin Alumni Sesko TNI, Master Parachutist Badge (Singapore Army), Master Parachutist Badge (Royal Thai Army), dan Pin Setia Waspada Paspampres.

Ada kenangan kisah Mayjen TNI Achiruddin. Ia ternyata pernah merasakan “hukuman” dari seniornya di Akmil, yakni membuat kamuflase militer atau penyamaran wajah.

Lazimnya, kamuflase militer dilakukan dengan membuat coreng-moreng wajah menggunakan cat khusus yang tidak luntur oleh keringat, tetapi juga tidak membuat iritasi pada kulit wajah. Strategi cat kamuflase untuk wajah, peralatan tempur, dan lain-lain, sudah ada sejak Perang Dunia I.

Tapi yang ini beda. Junior yang kena tindak, harus “mengecat wajah” dengan kotoran. Rahasia kecil itu “dibocorhaluskan” oleh sahabat satu angkatan di Akmil, Kolonel Inf Tri Aji Sartono yang juga ikut merasakan tindakan itu. “Kami satu angkatan, Akmil 1997. Dan kami sama-sama punya pengalaman itu. Jadi di mana pun jumpa, topik itu selalu jadi bahan segar untuk menguak memori di Lembah Tidar,” ujar Tri Aji yang pernah menjabat Aster Kodam Jayakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *