NewsNasional

Menaker: Ekonomi Sirkular Buka Peluang Jutaan Lapangan Kerja Baru

×

Menaker: Ekonomi Sirkular Buka Peluang Jutaan Lapangan Kerja Baru

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2026 11 08 at 22.34.59
Menaker Yassierli saat berkunjung ke kampug ITB, Bandung. (Foto: Humas Kemnaker)

KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan transformasi menuju ekonomi sirkular (circular economy) membuka peluang penciptaan jutaan lapangan kerja baru di Indonesia.

Peluang tersebut muncul seiring perubahan model industri dari pola ekonomi linear yang menghasilkan limbah menjadi ekonomi sirkular yang mengoptimalkan pemanfaatan kembali bahan baku dan produk agar memiliki nilai tambah.

“Circular economy ini sebenarnya sudah lama kita dengar. Esensinya adalah bagaimana kita menghilangkan waste atau limbah melalui recycle, reuse, atau intervensi terhadap materialnya sehingga limbah semakin kecil dan semakin sedikit. Ini menjadi peluang,” ujar Yassierli saat menyampaikan keynote speech pada Industrial Engineering Festival of Cirebon (IEFC) ITB 2026, di Kampus ITB Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).

Menurut Yassierli, potensi ekonomi sirkular di Indonesia cukup besar. Menurutnya, ekonomi sirkular berpotensi menambah 4,4 juta tenaga kerja hingga 2030, serta memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp638 triliun. Potensi tersebut terutama berada pada sektor pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi, dan tekstil.

Ia mencontohkan, berbagai material yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya masih dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya adalah bagian ikan seperti kepala, sirip, dan ekor yang tidak dimanfaatkan oleh industri pengolahan ikan, tetapi dapat diolah kembali menjadi tepung. Begitu pula berbagai komponen kelapa sawit dan kelapa yang memiliki potensi pemanfaatan lebih luas.

“Orang membuang, tetapi kemudian Anda mengambil. Jadi, Anda tidak perlu bayar. Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah pabrik pengolahan ikan. Kepala, sirip, ekor itu dibuang. Bagi mereka sampah. Tapi bagi orang lain ini ditampung dan kemudian dari situ bisa dibuat pabrik tepung. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan,” jelasnya.

Yassierli menilai peluang tersebut membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha dan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, terutama dalam pengembangan teknologi pengolahan material. Menurutnya, mahasiswa teknik industri perlu menggandeng bidang keilmuan lain, seperti farmasi dan teknik kimia, agar potensi limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *