KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak dunia merosot tajam setelah hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat mengubah ekspektasi pasar terhadap konflik di Timur Tengah.
Pada Rabu (4/11/2026), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 8,3 persen, sedangkan Brent melemah 8,7 persen. Penurunan ini membawa WTI ke bawah level psikologis 90 dolar AS per barel.
Pelemahan berlanjut pada Kamis (5/11/2026), ketika investor menilai kemenangan Partai Demokrat di Kongres AS dapat meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Pemilu AS dan Harapan Meredanya Konflik Timur Tengah
Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela memperkuat posisi Demokrat di Kongres. Perubahan kekuatan politik ini diperkirakan dapat membatasi ruang gerak pemerintahan Trump dalam menentukan kebijakan militer dan anggaran pertahanan.
Pasar merespons dengan mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik.
Investor menilai peluang diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran semakin terbuka, sehingga gangguan pasokan dari kawasan penghasil minyak utama berpotensi mereda.
Meski demikian, hasil pemilu tidak serta-merta mengakhiri konflik. Ketidakpastian mengenai negosiasi dan kemungkinan eskalasi militer masih dapat memicu volatilitas harga minyak.
Pasokan dan Permintaan MInyak Dunia Masih Menjadi Faktor Penentu
Selain perkembangan politik, pelaku pasar juga memantau kondisi pasokan minyak global.
Pemulihan aliran minyak dari kawasan Teluk Persia ikut menekan harga, sementara prospek berakhirnya konflik dapat membuka kembali pasokan yang sebelumnya terganggu.



