KITAINDONESIASATU.COM – Krisis PSS Sleman kian mengkhawatirkan. Kekalahan 1-3 dari Garudayaksa FC pada pekan kedelapan BRI Super League 2026/2027 memperpanjang tren negatif Super Elja sekaligus menyeret tim tersebut ke zona degradasi. Pelatih Peter Huistra pun blak-blakan mengakui rapuhnya lini pertahanan menjadi persoalan serius yang harus segera dibenahi.
Bertanding di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (1/11/2026), PSS Sleman kembali gagal menunjukkan performa meyakinkan. Dua gol cepat tuan rumah membuat tim berjuluk Super Elja itu berada dalam tekanan sejak awal pertandingan.
Brian Rubio membuka keunggulan Garudayaksa FC pada menit ke-12. Hanya berselang enam menit, Jayro Jean menggandakan keunggulan tuan rumah menjadi 2-0.
Situasi PSS semakin sulit setelah Kevin Gomes diganjar kartu merah pada menit ke-38. Bermain dengan 10 pemain membuat perjuangan tim asal Sleman tersebut semakin berat untuk mengejar ketertinggalan.
PSS sempat memberikan harapan setelah Gustavo Tocantins mencetak gol pada menit ke-71. Namun, momentum itu tidak bertahan lama. Lima menit kemudian, gol bunuh diri Cleberson membuat Garudayaksa kembali menjauh dan memastikan kemenangan 3-1.
Usai pertandingan, Peter Huistra tidak menutupi kekecewaannya terhadap performa anak asuhnya. Pelatih asal Belanda tersebut menilai PSS terlalu mudah memberikan kesempatan kepada lawan untuk mencetak gol.
“Pertandingan ini tentu mengecewakan untuk kami. Kami kebobolan dua gol dengan terlalu mudah. Cara kami membiarkan gol-gol tercipta dalam beberapa pertandingan terakhir membuat situasi semakin sulit bagi tim sendiri,” ujar Huistra, dikutip dari laman resmi I.League, Senin (2/11/2026).
Menurut Huistra, persoalan pertahanan tidak bisa lagi dianggap sepele. PSS harus segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kesalahan serupa tidak terus berulang pada pertandingan berikutnya.
“Secara defensif, kami tidak cukup baik saat ini. Kami harus bekerja keras lagi untuk memperbaikinya dan terus berusaha membenahi kelemahan tersebut,” tegasnya.
Huistra juga menyoroti kartu merah yang diterima Kevin Gomes. Kehilangan satu pemain sebelum turun minum jelas memengaruhi strategi dan keseimbangan permainan PSS.
Meski demikian, ia menegaskan timnya tidak boleh menjadikan insiden tersebut sebagai alasan untuk menutupi berbagai kelemahan yang masih terlihat di lapangan.
“Kartu merah yang didapat mengubah jalannya pertandingan. Hanya saja, kami tidak boleh menjadikannya sebagai alasan. Yang pasti, ada banyak yang harus diperbaiki, khususnya untuk lini pertahanan,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pekerjaan rumah PSS tidak sebatas mengatasi persoalan disiplin pemain. Organisasi pertahanan dan kemampuan menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan juga menjadi pekerjaan mendesak bagi tim pelatih. (*)






