KITAINDONESIASATU.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dan bergerak mendekati level psikologis 5.000 pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026.
Di tengah tekanan pasar saham, nilai tukar rupiah justru menguat ke posisi Rp18.110 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa data inflasi inti AS yang meningkat menjadi 3,1 persen secara tahunan pada September 2026 memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga ketat Federal Reserve.
Sentimen tersebut turut menekan bursa saham Asia. IHSG dibuka pada level 5.066 dan sempat menyentuh 5.116, tetapi masih bergerak di sekitar level 5.000.
Tekanan Jual Asing dan Pergerakan Pasar Keuangan
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari aksi jual investor asing. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing mencatatkan jual bersih saham senilai Rp4,2 triliun.
Tekanan jual meluas ke pasar surat utang pemerintah. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun sempat mencapai 7,7 persen, mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar keuangan.
Gunawan memperkirakan IHSG berpotensi berkonsolidasi di sekitar level 5.000. Namun, pelaku pasar perlu mewaspadai koreksi lanjutan apabila indeks menembus level tersebut.
Di tengah kondisi itu, rupiah bergerak menguat ke Rp18.110 per dolar AS. Penguatan mata uang domestik tersebut diperkirakan mendapat dukungan dari intervensi Bank Indonesia.


