KITAINDONESIASATU.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan besar sepanjang perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 26–30 Oktober 2026.
Indeks saham nasional tersebut terkoreksi 7,03 persen dan menutup perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, pada level 5.057,05.
Berdasarkan data BEI, posisi tersebut turun dari penutupan pekan sebelumnya yang mencapai 5.439,25. Pelemahan IHSG juga diikuti penyusutan kapitalisasi pasar sebesar 7,52 persen menjadi Rp8.862 triliun dari sebelumnya Rp9.583 triliun.
Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia berkurang sekitar Rp721 triliun hanya dalam satu pekan perdagangan.
Tekanan pasar juga terlihat dari aktivitas transaksi harian. Rata-rata nilai transaksi turun 29,49 persen menjadi Rp14,339 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi harian merosot 20,99 persen menjadi 1,54 juta kali.
Aksi Jual Asing dan Ketidakpastian Pasar Tekan IHSG
Sejumlah sentimen memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan terakhir Oktober 2026. Salah satunya adalah kekhawatiran investor terhadap rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengantisipasi kemungkinan perubahan aliran modal asing. Selain itu, tekanan nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat turut memengaruhi keputusan investasi.
Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih selama periode tersebut. Berdasarkan data perdagangan, beberapa faktor yang membayangi pasar saham Indonesia meliputi:
- Ketidakpastian terkait usulan perubahan status pasar Indonesia dalam indeks MSCI.
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
- Kebijakan suku bunga Federal Reserve yang masih berada pada kisaran 3,75–4 persen.
- Penurunan minat investor terhadap aset berisiko dan aksi ambil untung.
