KITAINDONESIASATU.COM – Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan hingga turun di bawah US$80.000 pada Senin, 26 Oktober 2026.
Kondisi ini menjadi perhatian analis kripto Benjamin Cowen yang menilai dua dari sembilan tahapan dalam skenario bearish Bitcoin 2026 buatannya telah terpenuhi.
Dua tahapan tersebut meliputi penutupan harga mingguan di bawah US$83.000 dan terjadinya fakeout pada 25 Oktober. Fakeout merupakan kondisi ketika harga sempat menembus level tertentu, tetapi kemudian berbalik arah.
Menurut skenario Cowen, perkembangan berikutnya turut dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi makro yang berlangsung pekan ini.
Keputusan The Fed dan Data Inflasi Jadi Sorotan
Perhatian pasar tertuju pada keputusan Federal Reserve atau The Fed mengenai suku bunga pada 28 Oktober 2026.
Dalam skenarionya, Cowen memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tidak menaikkan suku bunga. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sehari setelahnya, Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat dijadwalkan merilis data indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau PCE untuk September. Indikator ini menjadi salah satu acuan penting dalam mengukur inflasi dan menentukan arah kebijakan moneter.
Selain kebijakan suku bunga dan inflasi, Cowen menyoroti kenaikan harga minyak mentah Brent yang mendekati US$120 per barel serta potensi imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun meningkat menuju 5,3 persen. Perkembangan tersebut dinilai dapat menambah tekanan terhadap pasar keuangan.

