KITAINDONESIASATU.COM – Untuk mengantisipasi kekeringan yang terjadi di wilayah Jawa Timur yang semakin meluas Pemrov Jatim menyiapkan sejumlah solusi untuk mangatasi persoalan tersebut.
Hingga saat ini pihak Pemprov telah bergerak memetakan titik rawan kritis air sekaligus menyiapkan skema bantuan darurat bagi petani yang terancam gagal panen.
Pemprov juga telah menggelar koordinasi intensi bersama Kementerian Pertanian, Dirjen terkait hingga seluruh Kepala Dinas Pertanian se-Jatim di Gedung Bappeda Jatim guna menginventarisasi wilayah terdampak.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak usai paripurna di Gedung DPRD Jatim mengatakan jika Pemprov sudah menginventarisasi titik-titik yang berpotensi kekeringan, termasuk solusi yang akan diambil.
Menurut Emil ada tiga solusi untuk mengatasi kekeringan di wilayah Jawa Timur, antara lain jika masih ada air dipermukaan yang terjangkau adalah jalur penggunaan pompa.
Solusi yang kedua apabila ada kesiapan dan potensi air di tanah, makan akan dibuatkan sumur bor, kemudian yang ketiga adalah pemipaan atau pipanisasi.
Pemetaan tiga opsi tersebut telah dilakukan oleh masing-masing Dinas Pertanian daerah, bahkan distribusi bantuan alat pompanisasi telah digulirkan secara bertahap ke berbagai wilayah Jatim, untuk antisipasi perluasan dampak kemarau.
Selain percepatan infrastruktur air did aerah terdampak Pemprov juga akan menyiapkan jaring pengaman anggaran melalui dana Biaya Tak Terduga (BTT) untuk membantu para petani yang gagal panen yang mengalami kerugian.
Emil Dardak mengungkapkan untuk merdeksi petani yang gagal panen makan mereka akan diberikan bantuan, minimal dari Pemprov bisa memberikan bantuan bibit secara cuma-cuma untuk musim tanam berikutnya.
Sementara menghadapi musim kekeringan yang mulai meluas ini Pemoprov Jatim berkolaborasi dengan BNPB dan BMKG melalui jalur rekayasa cuaca atau Operasi Modifikasi CUaca (OMC).
Langkah ini merupakan langkah penting yang harus dilakukan Pemrov Jati mengingat Jatim sebagai lumbung pangan nasional yang menjadi titik prioritas penangan krisis iklim.
Meskipun OMC bergantung pada ktersediaan potensi awan hujan yang dinamis, upaya yang dilakukan sudah membuahkan hasil yang positif di sejumlah wilayah terdampak seperti keberhasilan di wilayah Malang Raya dan Malang Selatan, hingga Blitas, Tulungagung dan Trenggalek.
“Ini menjadi sebuah oase, tetapi tentu enggak cukup mengingat kondisi kering dengan melihat kebutuhan kita. Kita terus berikhtiar karena BNPB dan BMKG telah menjadikan Jawa Timur salah satu titik prioritas,” pungkas Emil Dardak, Senin (21/9/2026) **






