KITAINDONESIASATU.COM – Pemkot Surabaya benar-benar mempersiapkan diri dengan matang terkait mitigasi kebencanaan menghadapi patahan aktif hasil survey terbaru dengan segala kemungkinannya, Jumat (18/9/2026).
Sehubungan dengan hasil survey terbaru itu Pemkot Surabaya akan memasang 4 hingga 5 unit alat deteksi gempa atau seismofraf pada tahun 2026, sebagai langkah mitigasi bencana dan memadukan pergerakan dua jalur patahan aktif yang melintasi Kota Surabaya.
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan akan menggunakan Raspberry Shake (RS6D, alat yang diusulkan tim geofisika ITS Surabaya yang dipimpin oleh Prof Amien Widodo yang memiliki keunggulan teknis dan efiensi anggaran untuk kawasan perkotaan.
“Ini menjadi solusi alternatif lebih ekonomis dibandingkan seismik konvensional tanpa mengurangi kualitas data profesional, alat ini berukuran kecil memudahkan penempatan di wilayah kota yang terbatas,” kata Irvan kepada media di Surabaya, Kamis (17/9/2026).
Di sisi lain alat ini juga mampu merekam seluruh getaran dari gempa skala kecil hingga gempa kuat, alat juga dilengkapi dengan kecerdasan buatan artifisial intelegence dan dapat mereka data secara instan tanpa jeda.
Menurut Irvan Kota Surabaya juga membutuhkan 14 unit stasiun pemancar untuk mengcover seluruh wilayah, untuk tahap awal tahun ini, Pemkot Surabaya prioritaskan pemasangan 4-5 unit terlebih dahulu, yang dipasang di ruang-ruang publik yang memiliki akses internet stabil.
Dengan pemasangan alat ini diharapkan bisa membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diaktifkan dengan pusat kendali Command Center 112.
Menanggapi adanya potensi gempa di sosial media, Pemkot Surabaya juga bekerja sama dengan BMKG, khususnya stasiun geofisika Probolinggo dan Pasuruan dan tim ahli ITS untuk menyajikan inormasi resmi yang valid.
Ivan menegaskan jika karakteristik sesar di Surabaya tergolong lempengan kecil, meski potensi getaran tergantung pada kedalaman gempa, oleh karena itu masyarakat diminta untuk tidak panik berlebihan.
Namun fokus utama masyarakat adalah meningkatkan kewaspadaan diri dan keluarga tanpa mengganggu aktivutas sehari-hari, teruslah beraktivitas seperti biasanya.
Sementara pemasangan sesmograf sendiri sejalan dengan hasil survey terbaru Pemkot Surabaya bersama tim ahli geologi terkait keberadaan patahan aktif Sesar Kendeng yang meliputi Kota Surabaya berupa Patahan Surabaya dan Waru.
Pakar Geologi Dr.Ir. Amien Widodo, M.Si, menjelaskan bahwa kedua patahan ini memiliki karakteristik patahan naik (thrust patahan), aktivitas geologis ini ditandai dengan adanya dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah dan membentuk bukit-bukit memanjang di wilayah kota.
Sebagai langkah mitigasi bencana, dalam hasil survei menegaskan pentingnya pemantauan (monitoring) secara terus-menerus, rencananya saat ini, sejumlah instrumen seismograf akan dipasang di berbagai titik di sekitar patahan dan wilayah Kota Surabaya.
Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time, dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan. **





