KITAINDONESIASATU.COM – Pupulasi tanpa pasangan hidup di China sepertinya terus mengalami peningkatan, anak-anak muda memilih tidak memiliki pasangan hidup terus bertambah.
Data dari Kementerian Urusan Sipil China menunjukkan jumlah pendaftar pernikahan dari 13,47 juta pasangan dari tahun 2013 menjadi 6,76 juta pada tahun 2025.
Sementara data statistik urusan sipil untuk kuartal pertama tahun 2026 melaporkan 1,697 juta pendaftar, turun 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, melanjutkan penurunan jangka panjang.
Laporan era baru hidup sendirian dari Institut Penelitian Beike menyebut bahwa populasi jumlah pemuda hidup sendiri di China mencapai 123 juta pada tahun 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 150-200 juta pada tahun 2030.
Seorang konten kreator China, Xia Xiaosen berusia 39 tahun dari Dalian Provinsi Liaoning mengatakan hidup sendiri bukan berarti tanpa tantangan, saat sakit ia merasakan kehilangan orang lain dengan sangat mendalam, karena harus menghadapi semuanya sendiri.
Dilansir chinadaily.com.cn membagikan gaya hidup mandirinya do sosial media di media sosial yang meneriman komentar miring yang mempertanyakan mengapa seorang wanita memilih hidup sendirian.
Menurut Xia sejauh ini masih ada prasangka, beberapa orang tidak dapat menerima bahwa seorang wainita yang hidup mandiri dapat merasa puas.
Pada hal hidup sendirian menurut Xia telah memperluas kehidupan sosialnya dengan cara yang tak terduga, saat bebergian ia sering memilih hostel karena memudahkan untuk bertemu orang baru.
Namun pada dari tahun ketahun telah terjadi pergeseran nilai, jika dulu ia merasa malu pergi ke konser atau bioskop sendirian, tetapi sekarang tidak lagi, ia melihat pengalaman -pengalaman itu menjadi sesuatu yang membebaskan.
Dengan hidup sendirian Xia mengaku lebih suka membeli lebih sedikit barang-barang yang ia butuhkan, namun barang-barangnya lebih berkualitas, bahkan ia mengaku pengeluaran terbesarnya dalam hidupnya adalah untuk biaya binatang piaraannya kucing.
Xia meninggalkan kenyamanan rumah keluarganya sejak 5 tahun lalu, ia pun segera menyadari bahwa kemandiriannya lebih besar datang dengan harga yang mahal, dengan membangun rumah tangga dari nol.
Ia membangun rumah dari awal kemudian membeli furnitur, peralatan dan perlengkapan rumah tangga, susuatu yang belum bernah dia pikirkan sebelumnya.
Hidup sendirian juga mengubah cara padang terhadap uang, harus mengelola pengeluaran rumah tangga dan pekerjaan rumah sehari-hari mendorongnya untuk membuat anggaran lebih cermat dan berbelanja dengan lebih teliti.
Ia kini memilih barang bara-barang yang dia butuhkan lebih sedikit namun berkualitas tinggi khususnya kebutuhan konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari termasuk makanan.
“Saya tidak membutuhkan kuantitas besar. Saya lebih menyukai makanan segar dan berkualitas tinggi yang sesuai dengan kebutuhan saya. Itulah arti ekonomi solo bagi saya membeli lebih sedikit, tetapi lebih baik,” kata Xia.
Di China kini jumlah anak muda yang memilih hidup sendiri lebih banyak dan terus meningkat, anak-anak muda memilih untuk hidup sendiri, bepergian sendiri, hingga memunculkan ekonomi solo yang berpusat pada konsumsi satu orang saja.
Seiring bisnis semakin menyesuaikan produk dan layanan dengan konsumen individual, otonomi dan kenyamanan yang lebih besar datang dengan biaya yang lebih tinggi dan pengorbanan sehari-hari.
Banyak di jumpai tempat nongkrong di negara berpenduduk 1,4 milar ini yang menyediakan tempat nongkrongnya hanya meja dan satu kursi saja, semua sendiri merek hanya ditemani dengan ponsel yang ada digenggamannya.
Fenomena ekonomi solo juga menjadi perhatian pusat perbelanjaan di China seperti diungkapkan manajer Wuyuanwan Rainbow Shopping Center di Xiamen, Wu Yifei mengatakan ekonomi individu mulau berkembang sejak tahun 2024 silam.
Di kota ini telah diluncurkan sp@ce Rainbow Supermarket 3.0 pertama di Fujian pada tahun 2025, melayani konsumen tunggal menjadi bagian inti dari strategi ritel perusahaan mereka.
“Kami telah beralih dari memperlakukan konsumsi individu sebagai permintaan khusus menjadi menjadikannya bagian dari rencana bisnis keseluruhan kami,” kata Wu.
Supermarket itu mengemas produk makanan segar kemasan sekali saji, makanan siap saji, mahan makan kemasan kecil, produk kecantikan, hingga perlengkapan hewan peliharaan, untuk kemasan makanan siap saji juga telah didesain ulang agar lebih sesuai dengan pelanggan yang berbelanja makanan sendirian. **





