KITAINDONESIASATU.COM – Harga Bitcoin kembali menguat di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut naik sekitar 3 persen hingga berada di kisaran US$79.143, setelah sebelumnya menyentuh level US$79.325.
Pergerakan Bitcoin dipengaruhi sentimen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa Iran disebut ingin membuka pembicaraan dengan Washington. Namun, pernyataan tersebut mendapat bantahan dari media Iran sehingga pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai arah konflik kedua negara.
Situasi geopolitik tersebut juga berdampak pada pasar komoditas. Harga minyak dunia masih bertahan di atas US$100 per barel karena investor memperhitungkan potensi gangguan pasokan energi akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Bitcoin Dibayangi Resistensi US$80.000
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara global. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pertimbangan Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan mendatang.
Bagi pasar kripto, kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan investor. Suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama berpotensi membuat aset berisiko seperti Bitcoin menghadapi tekanan, sementara ekspektasi pelonggaran kebijakan dapat memberikan sentimen positif.
Secara teknikal, Bitcoin kini menghadapi area resistensi penting di sekitar US$80.000. Level tersebut menjadi perhatian karena keberhasilan menembusnya dapat membuka ruang bagi penguatan lanjutan. Sebaliknya, kegagalan melewati area tersebut dapat memicu aksi ambil untung.
Konsentrasi likuidasi di sekitar pergerakan harga juga menunjukkan potensi volatilitas yang masih tinggi. Investor karena itu terus mencermati perkembangan konflik Iran-Amerika Serikat, pergerakan harga minyak, serta keputusan Federal Reserve untuk menentukan arah Bitcoin selanjutnya.(*)

