KITAINDONESIASATU.COM – Kartu Pokemon tidak lagi sekadar barang koleksi bagi penggemar permainan dan budaya pop Jepang. Peter Levin, pendiri Griffin Gaming Partners, bahkan menilai popularitas dan nilai kartu koleksi tersebut berpotensi menjadikannya aset yang sangat berharga di masa depan.
Levin diketahui memiliki lebih dari 500 ribu trading card dari berbagai genre. Dari seluruh koleksinya, kartu Pokemon disebut menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Ia melihat fenomena Pokemon telah berkembang menjadi budaya global dengan komunitas yang terus tumbuh.
Pandangan tersebut muncul karena perkembangan pasar kartu koleksi yang dalam beberapa tahun terakhir semakin besar. Kartu langka dapat memiliki nilai fantastis, terutama jika memiliki kondisi fisik sangat baik, edisi terbatas, atau berasal dari periode tertentu yang diminati kolektor.
Popularitas Kartu Pokemon Makin Mendunia
Popularitas Pokemon bermula dari Jepang sebelum berkembang pesat secara internasional sejak akhir 1990-an dan awal 2000-an. Setelah melewati masa kejayaan dan periode penurunan, pasar kartu koleksi kembali mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Perkembangan media sosial ikut menjadi pendorong utama. Para selebritas dan figur publik turut memperkenalkan aktivitas mengoleksi kartu kepada jutaan pengikut mereka. Nama Logan Paul, misalnya, pernah menjadi perhatian karena transaksi kartu Pokemon bernilai sangat tinggi pada awal 2026.
Selain itu, sejumlah tokoh hiburan seperti DJ Steve Aoki juga dikenal memiliki ketertarikan terhadap collectible card. Aktivitas tersebut kerap dibagikan melalui media sosial sehingga semakin memperluas daya tarik kartu koleksi kepada generasi baru.
TikTok, Instagram, hingga platform lelang langsung seperti Whatnot turut memperkuat ekosistem perdagangan kartu. Kondisi tersebut membuat collectible card tidak hanya dipandang sebagai barang nostalgia, tetapi juga bagian dari industri hiburan dan investasi alternatif.
Levin menilai semakin kuatnya kehidupan digital justru dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap benda fisik yang menghadirkan pengalaman sosial. Kartu koleksi dianggap mampu mempertemukan komunitas, nostalgia, hiburan, dan potensi nilai ekonomi dalam satu produk.(*)
