KITAINDONESIASATU.COM – Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menyita perhatian setelah gunung api di Selat Sunda tersebut mengalami erupsi menerus pada Sabtu, 5 September 2026.
Fenomena ini sekaligus mengingatkan dunia pada sejarah panjang Krakatau, termasuk letusan 1883 yang tercatat sebagai salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah.
Namun, tahukah Anda bahwa kisah Krakatau ternyata pernah dibawa ke layar lebar? Salah satunya melalui film Krakatoa, East of Java, film petualangan yang dirilis pada 1968 dan kemudian beredar pada 1969.
Film garapan sutradara Bernard L. Kowalski tersebut dibintangi Maximilian Schell, Diane Baker, dan Brian Keith. Berdasarkan catatan American Film Institute (AFI), film ini berdurasi 148 menit dan mengambil latar menjelang bencana besar Krakatau pada 1883.
Kapal tersebut membawa sejumlah penumpang dengan misi mencari kapal yang tenggelam sekaligus muatan mutiara yang berada di dalamnya.
Namun, perjalanan berubah menjadi penuh bahaya ketika kapal semakin mendekati kawasan gunung api.
Aktivitas vulkanik mulai mengancam keselamatan para penumpang. Puncak ketegangan terjadi ketika Krakatau meletus dan memicu gelombang besar di laut, memaksa kapal berusaha menyelamatkan diri.
Ada satu fakta unik yang mungkin mengejutkan penonton. Meski mengangkat Krakatau, film tersebut justru menggunakan judul Krakatoa, East of Java. Padahal secara geografis, Krakatau berada di sebelah barat Pulau Jawa, tepatnya di kawasan Selat Sunda.
Kesalahan tersebut bahkan tercatat dalam arsip AFI. Distributor film disebut baru menyadari kekeliruan tersebut setelah berbagai materi promosi telanjur dibuat. Mengganti judul ketika itu dianggap membutuhkan biaya besar. Film tersebut kemudian dirilis dan bahkan memperoleh nominasi Academy Award untuk kategori efek visual.
Kisah dalam film bukan sepenuhnya muncul dari imajinasi. Krakatau memang mengalami rangkaian letusan dahsyat pada 1883, dengan puncak aktivitas terjadi pada 26-27 Agustus.
Berdasarkan kronologi Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas gunung telah meningkat sejak Mei 1883. Pada 20 Mei terjadi letusan yang disertai hujan abu lebat.
Aktivitas kemudian terus meningkat hingga akhirnya terjadi rangkaian letusan besar pada akhir Agustus.
Pada 27 Agustus 1883, beberapa letusan dahsyat terjadi dan memicu tsunami yang menghantam kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.
Material vulkanik yang dikeluarkan diperkirakan mencapai sekitar 18 kilometer kubik, sementara abu vulkanik dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 80 kilometer.
Dampaknya bahkan terasa hingga atmosfer dan memengaruhi pencahayaan matahari selama beberapa waktu.
Anak Krakatau Kembali Erupsi pada 2026
Kini, perhatian kembali tertuju ke kawasan tersebut setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas.
Dalam laporan Badan Geologi tertanggal 5 September 2026, Anak Krakatau disebut mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB. Erupsi disertai suara gemuruh serta semburan berwarna merah menyala yang terlihat terus-menerus.
Badan Geologi menyebut fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Aktivitas erupsi selama beberapa jam yang berkaitan dengan lava fountain disebut sebagai fenomena yang umum terjadi.
Erupsi berskala rendah juga masih terjadi hingga 5 September 2026, dengan potensi bahaya berupa aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Meski sejarah Krakatau kembali menjadi sorotan, Badan Geologi menyatakan kondisi Anak Krakatau saat ini perlu dilihat berdasarkan evaluasi terbaru.
Tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi saat ini, gunung tersebut dinyatakan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meski demikian, masyarakat dan wisatawan tetap dilarang memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. (*)






