KITAINDONESIASATU.COM – Kebiasaan tidur terlalu malam atau bergadang ternyata tidak hanya membuat anak kelelahan. Pola tidur yang kurang dan tidak teratur juga dapat memengaruhi pertumbuhan tinggi badan anak.
Hal tersebut dikonfirmasi dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), dr Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, MARS. Menurutnya, kurang tidur dapat meningkatkan risiko anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek karena berkaitan dengan produksi hormon pertumbuhan.
“Benar. Kebiasaan tidur terlalu malam dapat memengaruhi tinggi badan anak. Anak yang kurang tidur berisiko memiliki tinggi badan yang lebih pendek. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon pertumbuhan yang paling banyak keluar selama anak tidur,” ujarnya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Hormon Pertumbuhan Meningkat Saat Tidur
dr Gilang menjelaskan, hormon pertumbuhan diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak. Hormon tersebut mencapai puncaknya ketika anak memasuki fase deep slow-wave sleep (SWS), yang merupakan bagian dari fase tidur non-rapid eye movement (NREM).
Pada fase tersebut, hormon pertumbuhan dilepaskan ke aliran darah dan menuju jaringan tubuh yang berperan dalam proses perbaikan jaringan, pembentukan otot, serta penguatan tulang.
Pertumbuhan Harus Dipersiapkan Sebelum Pubertas
Menurut dr Gilang, masa pubertas memang menjadi periode ketika terjadi lonjakan pertumbuhan tinggi badan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh peningkatan hormon seks dan hormon pertumbuhan.
Namun, pertumbuhan optimal tidak hanya ditentukan ketika anak memasuki masa pubertas. Persiapan untuk mendukung pertumbuhan justru perlu dilakukan sejak sebelum pubertas melalui penerapan pola hidup sehat.
Gizi Seimbang Lebih Penting daripada Sekadar Suplemen
Selain memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup, dr Gilang menekankan pentingnya asupan gizi seimbang. Ia juga meluruskan anggapan bahwa konsumsi susu saja sudah cukup untuk membuat anak bertambah tinggi.
“Jadi konsumsi susu saja tidak cukup. Harus ada kombinasi dari variasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang,” katanya.
Menurutnya, anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan tulang secara optimal. Nutrisi tersebut antara lain karbohidrat kompleks, protein hewani, lemak, vitamin D, vitamin K, kalsium, zink, magnesium, dan fosfor.
Sementara itu, suplemen hanya berfungsi sebagai penunjang dan diberikan sesuai kebutuhan. Misalnya, pada anak yang mengalami kekurangan vitamin atau memiliki gangguan penyerapan nutrisi.
Orang Tua Perlu Mengatur Kebiasaan Tidur Anak
dr Gilang menyarankan orang tua membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Hal itu dapat dilakukan dengan menjaga pola makan bergizi seimbang, menerapkan jadwal tidur yang konsisten, serta mendorong anak rutin melakukan aktivitas fisik.
Penggunaan gawai juga perlu diperhatikan. Ia mengingatkan agar anak menghentikan penggunaan gawai setidaknya satu jam sebelum waktu tidur.
Berapa Lama Anak Sebaiknya Tidur?
Kebutuhan tidur anak berbeda-beda sesuai kelompok usia. dr Gilang menyebut durasi tidur yang dianjurkan mulai dari 9–12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8–10 jam untuk remaja.
Kelompok Usia Rekomendasi Durasi Tidur Keterangan Bayi 4–12 bulan 12–16 jam Termasuk tidur siang Anak 1–2 tahun 11–14 jam Termasuk tidur siang Anak 3–5 tahun 10–13 jam Termasuk tidur siang Anak 6–12 tahun 9–12 jam Umumnya tidak butuh tidur siang Remaja 13–18 tahun 8–10 jam Kebutuhan tidur malam
“Durasi tidur yang dianjurkan bervariasi sesuai usia, mulai dari 9–12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8–10 jam untuk remaja,” tuturnya.
Dengan demikian, menjaga waktu tidur bukan sekadar soal menghindari rasa kantuk pada siang hari. Bagi anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan, tidur yang cukup dan berkualitas menjadi salah satu bagian penting dari pola hidup sehat, bersama dengan asupan gizi seimbang dan aktivitas fisik.





