KITAINDONESIASATU.COM – Jumlah korban tewas akibat krisis perbatasan antara Spanyol dan Maroko di wilayah Ceuta terus bertambah. Pemerintah Spanyol mengonfirmasi sedikitnya 67 orang meninggal dunia hingga Sabtu, 1 Agustus 2026.
Korban terdiri dari migran yang tenggelam maupun meninggal saat berusaha melewati pemecah gelombang laut untuk memasuki wilayah Spanyol.
Peristiwa ini menjadi salah satu insiden kemanusiaan terbesar yang terjadi di kawasan perbatasan Eropa dalam beberapa waktu terakhir.
Ribuan migran diketahui mencoba menyeberang demi mencari kehidupan yang lebih baik, sehingga memicu situasi darurat di kota otonom Ceuta.
Pemerintah Perketat Pengamanan Perbatasan
Sebagai respons atas gelombang migran yang mencapai puluhan ribu orang dalam dua hari terakhir, pemerintah Spanyol memutuskan membangun penghalang pengaman sepanjang 500 meter di area pemecah gelombang menuju laut.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah upaya penyeberangan ilegal sekaligus meningkatkan keamanan di kawasan perbatasan.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan sebagian besar migran yang berhasil memasuki Ceuta telah dipulangkan ke Maroko.
Di sisi lain, aparat keamanan masih menemukan sejumlah migran yang bertahan di wilayah tersebut meski akses menuju kebutuhan dasar semakin terbatas.
Pemerintah daerah Ceuta mengakui aktivitas masyarakat sempat terganggu akibat lonjakan migran yang memenuhi sejumlah titik di kota.





