KITAINDONESIASATU.COM – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan menjelang akhir Juli 2026 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat memberikan sentimen positif bagi pasar aset berisiko.
Dalam perdagangan 24 jam terakhir, Bitcoin naik sekitar 1,9 persen hingga diperdagangkan di kisaran US$64.900 atau mendekati level psikologis US$65.000.
Kenaikan tersebut juga diikuti peningkatan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan yang mencapai sekitar US$2,20 triliun, sementara dominasi Bitcoin di pasar aset digital tetap berada di kisaran 59 persen.
Data PCE Dorong Sentimen Positif Pasar Kripto
Penguatan Bitcoin dipicu oleh publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode Juni 2026. Data tersebut menunjukkan inflasi utama tahunan berada di level 3,7 persen, sesuai dengan perkiraan pelaku pasar.
Sementara itu, inflasi inti atau Core PCE turun menjadi 3,3 persen dibandingkan periode sebelumnya, meski masih tergolong tinggi jika dibandingkan tren dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat pasar merespons positif karena data inflasi tidak melampaui ekspektasi.
Harapan bahwa kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat tidak akan berubah secara agresif turut mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sepanjang Juli 2026, Bitcoin tercatat telah membukukan kenaikan lebih dari 10 persen. Performa tersebut menjadi salah satu pencapaian bulanan terbaik bagi mata uang kripto terbesar di dunia itu pada tahun ini.


