KITAINDONESIASATU.COM – Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah mengalami penolakan untuk kedua kalinya di area resistance US$67.000.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa aset kripto terbesar di dunia itu masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan dalam jangka pendek.
Sejumlah analis teknikal menilai tekanan jual masih cukup kuat sehingga Bitcoin perlu menunjukkan sinyal penguatan yang lebih meyakinkan sebelum mampu kembali memasuki tren bullish.
Kegagalan menembus level resistance penting tersebut membuat pergerakan Bitcoin diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Investor pun mulai mencermati sejumlah level support yang dinilai berpotensi menjadi area penahan apabila tekanan jual terus berlanjut.
Indikator Teknikal Masih Beri Sinyal Waspada Bitcoin
Berdasarkan analisis teknikal, Bitcoin berisiko bergerak turun menuju area US$62.000 hingga US$60.000. Apabila tekanan jual semakin besar, harga bahkan berpeluang menguji level US$58.000 sebagai titik support berikutnya.
Di sisi lain, indikator Stochastic RSI pada grafik mingguan menunjukkan kondisi oversold atau jenuh jual. Meski demikian, kondisi tersebut belum tentu langsung menjadi sinyal pembalikan arah.
Dalam beberapa siklus sebelumnya, fase oversold justru berlangsung cukup lama sebelum Bitcoin benar-benar membentuk titik terendah dan memulai tren kenaikan baru.
Analis menilai proses pembentukan dasar harga masih dapat berlangsung hingga akhir 2026. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru menganggap koreksi telah berakhir.
Agar peluang pemulihan semakin terbuka, Bitcoin dinilai harus mampu menembus sekaligus bertahan di atas level US$67.000. Jika area tersebut berhasil dilewati dengan dukungan volume transaksi yang kuat, sentimen pasar berpotensi berubah menjadi lebih positif.
Hingga saat itu terjadi, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih akan dipengaruhi tekanan teknikal dan ketidakpastian kondisi ekonomi global yang memicu fluktuasi di pasar aset kripto.(*)
