KITAINDONESIASATU.COM – Harga Bitcoin kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026. Aset kripto terbesar di dunia itu berhasil mendekati level psikologis US$65 ribu setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan memicu optimisme investor.
Meski demikian, kenaikan Bitcoin masih dibatasi oleh ketegangan geopolitik yang terus meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$65.340 sebelum bergerak di sekitar US$64.700. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam hampir tiga pekan terakhir.
Penguatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah tekanan terhadap kebijakan suku bunga mulai mereda.
Data inflasi konsumen Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi memperkuat harapan bahwa bank sentral tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.
Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar kripto yang selama beberapa pekan terakhir tertekan oleh kekhawatiran kebijakan moneter yang ketat.
Ketegangan Timur Tengah Masih Menahan Harga Bitcoin
Meski sentimen inflasi mendukung penguatan Bitcoin, pasar tetap berhati-hati karena konflik Amerika Serikat dan Iran terus memanas.
Serangan yang saling dilancarkan kedua negara meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memicu kembali tekanan inflasi global.
Apabila inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi, peluang bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi masih terbuka, sehingga dapat membatasi penguatan aset kripto.
