News

Transformasi Hasil Samping Blue Food Dorong Hilirisasi Biomolekul Laut dan Ekonomi Biru

×

Transformasi Hasil Samping Blue Food Dorong Hilirisasi Biomolekul Laut dan Ekonomi Biru

Sebarkan artikel ini
Hilirisasi Biomolekul Laut Dorong Ekonomi Biru Indonesia
Hilirisasi biomolekul laut dari hasil samping blue food membuka peluang industri baru dan memperkuat ekonomi biru Indonesia.

KITAINDONESIASATU.COM- Hasil samping industri perikanan yang selama ini kerap dianggap limbah ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber biomolekul bernilai tinggi untuk pangan, kesehatan, kosmetik, hingga industri farmasi. Melalui pendekatan hilirisasi dan ekonomi sirkular, biomassa sekunder laut dapat diubah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung pembangunan ekonomi biru berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prof. Dr. Ir. Wini Trilaksani, M.Sc, dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Transformasi Hasil Samping Blue Food: Hilirisasi Biomolekul Laut Menuju Industri Terstandar dan Ekonomi Biru”.

Menurut Prof. Wini, blue food atau pangan yang bersumber dari laut memiliki peran strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan, menyediakan sumber protein, mengatasi kekurangan gizi, serta membangun sistem pangan yang tangguh. Namun demikian, masih terdapat tantangan berupa tingginya kehilangan hasil (losses) sepanjang rantai pasok perikanan.

“Secara global, sekitar 35 persen dari tangkapan ikan terbuang di sepanjang rantai pasokan. Hanya sekitar 54 persen ikan yang dipanen dan dikonsumsi langsung oleh manusia, sisanya hilang karena pembusukan, pengolahan yang tidak efisien, pemanfaatan produk sampingan yang terbatas, atau dialihkan untuk penggunaan non-pangan. Hal ini bukan hanya masalah ekonomi atau lingkungan, melainkan krisis gizi yang mendalam,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Rabu 24 Juni 2026.

Ia menjelaskan, laut tidak hanya menyediakan ikan, udang, rajungan, kerang, cumi, rumput laut, dan komoditas pangan akuatik lainnya, tetapi juga menyimpan biomolekul bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber gizi, bahan baku industri, produk kesehatan, sekaligus penggerak ekonomi biru.

Bagian-bagian hasil perikanan yang selama ini dianggap limbah, seperti mata, kepala, tulang, kulit, sisik, gelembung renang, viscera, karapas, cangkang, air rebusan, hingga air limbah proses, menurutnya merupakan secondary marine biomass atau biomassa sekunder laut yang masih kaya akan nilai gizi, fungsional, dan material.

“Di dalam hasil samping tersebut terdapat minyak kaya EPA dan DHA, protein, peptida bioaktif, kolagen, gelatin, kitin, kitosan, glukosamin, astaxanthin, carotenoprotein, biokalsium, hidroksiapatit, komponen flavor, antioksidan, dan berbagai komponen bioaktif lain,” katanya.

Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, lanjut Prof. Wini, bahan yang sebelumnya dianggap limbah dapat diubah menjadi pangan fungsional, nutrasetikal, kosmetik, farmasi laut, biomaterial, ingredient halal, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bernilai tambah.

Salah satu riset yang dikembangkan adalah pemanfaatan mata tuna sebagai sumber lipid fungsional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama timnya, mata tuna berukuran besar memiliki kadar lemak 22,21 persen, rendemen minyak 12,82 persen, DHA 37,45 persen, EPA 6,19 persen, serta total PUFA 48,10 persen.

“Angka ini menunjukkan bahwa mata tuna bukan sisa industri, melainkan sumber omega-3 kaya DHA yang dapat berkontribusi pada gizi, kecerdasan, dan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Pengembangan riset tersebut tidak hanya menghasilkan minyak ikan, tetapi juga berbagai produk turunan seperti mikrokapsul, soft capsule, hard capsule, tablet VFO dengan spirulina, nanoemulsi, oleogel, spread suplemen, hingga pangan terfortifikasi. Sementara fraksi lain seperti sludge, protein, sklera, dan mineral dapat diolah menjadi protein hydrolysate, kolagen, mikromineral esensial, antioksidan, dan biokalsium.

Konsep ini dikenal sebagai cascade utilization, yakni satu bahan baku diolah secara bertingkat untuk menghasilkan berbagai aliran nilai. Prinsip tersebut menjadi dasar pengembangan konsep Blue Marine Circular Biorefinery, yakni model transformasi hasil samping blue food menjadi biomolekul laut, produk antara (intermediate product), produk hilir terstandar, sekaligus penggerak ekonomi biru.

Prof. Wini menjelaskan, kerangka Blue Marine Circular Biorefinery dimulai dari raw material intelligence, yaitu kemampuan mengidentifikasi jenis, volume, lokasi, musim, mutu, dan risiko bahan baku. Tahap berikutnya adalah fractionation atau pemisahan komponen bernilai, yang kemudian dikembangkan menjadi produk antara, diformulasikan menjadi produk hilir, distandardisasi, dan diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi, sosial, gizi, serta lingkungan.

Selain lipid fungsional dari mata tuna, riset lainnya juga difokuskan pada pengembangan kolagen dan gelatin. Kulit ikan dan gelembung renang dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan berbagai bentuk produk kolagen, seperti collagen hydrolysate, liquid native collagen, super particle nano collagen, dan collagen powder.

Produk turunannya dapat dimanfaatkan sebagai suplemen, minuman kolagen, kosmetik, krim pelembap, serum, aplikasi farmasi, edible film, smart edible film, hingga biomaterial.

“Gelembung renang dan kulit ikan dari Nila, Patin, Kerapu, Lencam, Samge (tirusan), Cunang, Manyung, Tuna, Jangilus (Marlin), memiliki potensi besar sebagai sumber kolagen dan isinglass. Kolagen ikan memiliki nilai strategis karena dapat menjadi alternatif halal dan nonmamalia serta mempunyai karakteristik bioavabilitas tinggi, ukuran molekul yang lebih kecil, mudah diekstraksi, sehingga relevan untuk industri pangan, kosmetik, kesehatan, farmasi, dan biomaterial,” jelasnya.

Dari sisi ekonomi, sejumlah produk hilir hasil penelitian menunjukkan prospek yang menjanjikan. Soft Capsule Vita Virgin DHA dari mata tuna diproyeksikan memiliki NPV Rp7,01 miliar, IRR 211,52 persen, Net B/C 16,91, dan payback period 1,5 tahun.

Sementara produk Artsnack terfortifikasi VFO kaya DHA memiliki NPV Rp3,77 miliar, IRR 82,80 persen, Net B/C 4,77, serta payback period 2 tahun 6 bulan. Adapun produk self-heating berbasis cangkang rajungan menunjukkan NPV Rp11,18 miliar, IRR 104,06 persen, Net B/C 8,56, dan payback period 2 tahun 6 bulan pada skenario produksi terintegrasi.

“Data ini memperlihatkan bahwa hasil samping Blue Food dapat menjadi sumber value creation yang nyata. Transformasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang produk baru, industri baru, lapangan kerja, penguatan UMKM, substitusi bahan baku impor, dan peningkatan daya saing ekonomi biru Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masa depan sektor perikanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh volume produksi ikan, tetapi juga kemampuan memaksimalkan nilai dari biomassa yang telah dipanen.

“Pesan utama dari orasi ini adalah bahwa masa depan perikanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak ikan yang diproduksi, tetapi oleh seberapa besar nilai yang dapat diselamatkan, dipulihkan, distandardisasi, dan dihilirkan dari biomassa yang sudah dipanen,” tegasnya.

Selain meningkatkan nilai ekonomi, pemanfaatan hasil samping blue food juga berpotensi menurunkan jejak karbon (carbon footprint) karena biomassa yang sebelumnya menjadi limbah dapat dikembalikan ke rantai nilai sebagai biomolekul yang ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah. Hasil perhitungan Global Warming Potential (GWP) dari berbagai produk hasil penelitian juga menunjukkan nilai yang rendah.

Ke depan, Prof. Wini menilai pengembangan riset hasil samping blue food perlu diarahkan pada riset presisi yang terhubung dengan kebutuhan industri dan kebijakan berbasis quality by design. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu masuk ke rantai nilai industri secara nyata.

Menurutnya, pemanfaatan nanoteknologi seperti nanoemulsi dan nanoenkapsulasi juga menjadi penting untuk meningkatkan stabilitas, bioaksesibilitas, dan efektivitas biomolekul laut, khususnya pada produk berbasis minyak ikan, kolagen, dan ingredient fungsional.

“Seluruh proses hilirisasi ini harus diperkuat dengan standardisasi, termasuk pendekatan ekonomi sirkular seperti ISO 59000, agar produk yang dihasilkan memiliki mutu terukur, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” katanya.

Prof. Wini menutup orasinya dengan menegaskan bahwa ekonomi biru tidak hanya dibangun dari komoditas yang dihasilkan laut, tetapi juga dari kemampuan ilmu pengetahuan dalam mengoptimalkan seluruh fraksi biomassa menjadi nilai tambah bagi masyarakat.

“Ekonomi biru tidak hanya dibangun dari laut yang menghasilkan komoditas, tetapi dari kemampuan ilmu pengetahuan mengubah setiap fraksi biomassa menjadi nilai. Hasil samping Blue Food adalah sumber kehidupan baru: untuk pangan bergizi, industri biomolekul laut, ekonomi biru, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *