KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah rencana kenaikan tarif Transjabodetabek, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta justru membuka cara hemat bagi masyarakat agar biaya transportasi tetap murah. Rahasianya ada pada kartu hitam JakLingko yang kini jadi sorotan.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaludin, mengatakan bahwa kartu elektronik JakLingko Card berwarna hitam memungkinkan warga menikmati tarif integrasi antarmoda dengan biaya maksimal hanya Rp10 ribu.
“Kartu tersebut dipergunakan untuk mengakses layanan integrasi multimoda Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta dengan tarif maksimum Rp10 ribu,” ujar Budi, Mingg (7/6).
Kartu sakti ini memungkinkan pengguna bebas berpindah moda transportasi mulai dari Transjakarta, MRT, LRT hingga Commuterline dalam satu perjalanan praktis dan lebih hemat.
Tak cuma itu, kartu hitam JakLingko juga sudah terhubung dengan aplikasi JakLingko. Artinya, jika kartu hilang, saldo pengguna dipastikan tetap aman karena tersimpan di aplikasi.
Keunggulan lainnya, pada fase Account Based Ticketing (ABT), sistem nantinya dapat mengenali profil pengguna. Hal ini membuka peluang adanya tarif khusus atau insentif bagi kelompok tertentu seperti pelajar, lansia, hingga pengguna prioritas lainnya.
Selain kartu hitam, masyarakat juga bisa menggunakan kartu JakLingko warna biru yang diterbitkan lima bank besar yakni BCA, Mandiri, BNI, Bank Jakarta, dan BRI.
Kartu tersebut bisa dibeli dengan mudah melalui vending machine di halte Transjakarta maupun stasiun MRT dan LRT.
“Kartu ini bisa digunakan naik Transjakarta Rp5 ribu maksimal selama tiga jam perjalanan. Tidak ada syarat dan warga non-Jakarta juga boleh memilikinya,” kata Budi.
Dishub DKI sendiri kini tengah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga minat masyarakat menggunakan transportasi umum di tengah isu penyesuaian tarif Transjabodetabek.
Salah satu langkah utamanya adalah memperluas skema tarif integrasi Rp10 ribu agar nantinya mencakup seluruh rute Transjabodetabek melalui aplikasi JakLingko.
Skema ini memungkinkan masyarakat menggunakan lebih dari satu moda transportasi umum dalam satu perjalanan tanpa harus membayar mahal, sehingga dinilai menjadi solusi ampuh menghadapi potensi kenaikan tarif transportasi di Jabodetabek. (*)

