LifestyleUMKM

Batik Lokal Bogor Curi Perhatian, Usung Filosofi Kujang dan Kebangkitan Daerah

×

Batik Lokal Bogor Curi Perhatian, Usung Filosofi Kujang dan Kebangkitan Daerah

Sebarkan artikel ini
IMG 20260607 WA0011

KITAINDONESIASATU.COM- Batik bermotif Rereng Kujang karya UMKM lokal, Batik Bogor Tradisiku, menjadi identitas utama dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544. Busana tersebut dikenakan oleh Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Ketua Dekranasda Kota Bogor Yantie Rachim, serta seluruh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta istri saat puncak rangkaian awal HJB yang berlangsung pada Rabu 3 Juni 2026, lalu.

Tak hanya digunakan pada agenda pembuka, busana bermotif khas Bogor tersebut juga dipastikan kembali dikenakan oleh jajaran pimpinan daerah dalam puncak helaran HJB ke-544 yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 27 Juni 2026 mendatang.

Ketua Dekranasda Kota Bogor, Yantie Rachim, memilih motif Rereng Kujang karena dinilai memiliki makna filosofis yang sejalan dengan tema HJB tahun ini, yakni “Bogor Nanjeur” atau Bogor Bangkit dan Berjaya.

Motif Rereng Kujang terinspirasi dari Kujang, senjata tradisional masyarakat Sunda yang juga menjadi ikon Kota Bogor melalui keberadaan Tugu Kujang. Dalam budaya Sunda, kujang melambangkan kekuatan, keberanian, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan. Simbol tersebut juga merepresentasikan sosok pemimpin yang mengayomi dan melindungi kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, pola rereng atau garis miring yang mengalir menggambarkan perjalanan kehidupan yang terus bergerak maju, tumbuh, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Manajer Operasional Batik Bogor Tradisiku, Lisha, menjelaskan bahwa seluruh pakaian dinas dan bendo yang dikenakan jajaran kepala daerah pada HJB 2026 diproduksi secara khusus dengan proses pengerjaan tangan untuk menjaga kualitas terbaik.

“Spesial untuk menyambut Hari Jadi Kota Bogor tahun ini, kami memproduksi mahakarya batik tiga warna dengan melalui dua kali proses perebusan (lorod) untuk mengunci kesempurnaan warnanya. Seluruh proses pengerjaan ini diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu,” ujar Lisha saat memberikan keterangan.

Batik Bogor Tradisiku merupakan produsen batik pertama di Kota Bogor yang didirikan oleh pasangan suami istri, Siswaya dan Ruqoyah. Sebagai pelopor pelestarian wastra lokal, rumah produksi tersebut secara konsisten menghadirkan berbagai motif yang merepresentasikan identitas, sejarah, dan kekayaan alam Kota Bogor.

Melalui momentum HJB ke-544, Pemerintah Kota Bogor kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung, membina, serta menggunakan produk-produk UMKM lokal. Penggunaan Batik Rereng Kujang sejak awal rangkaian hingga puncak helaran pada 27 Juni mendatang diharapkan mampu menjadi penyemangat bagi pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi, sekaligus menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup, relevan, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *