KITAINDONESIASATU.COM – Sebuah rekaman mengejutkan menunjukkan momen ketika pesawat tak berawak dikerahkan untuk memeriksa gedung di Rafah yang telah diserang oleh tentara IDF pada Kamis, 17 Oktober 2024.
Dalam rekaman tersebut, Yahya Sinwar, yang terluka dan tampak kehilangan tangan kanannya, terlihat duduk sendirian di sebuah gerobak di dalam gedung yang hancur.
Wajahnya tertutup, dan tentara IDF tampaknya tidak menyadari bahwa mereka sedang mengamati target yang telah mereka buru sejak serangan teroris yang ia perintahkan pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.
Ketika Sinwar menyadari kehadiran UAV yang melayang hanya beberapa kaki darinya, ia berusaha melemparkan sebuah benda dengan tangan kirinya untuk mencoba menutupi keberadaannya.
Tak lama kemudian, tentara IDF memerintahkan serangan kedua ke gedung tersebut, menewaskan Sinwar dan dua anggota Hamas lainnya yang bersamanya.
Laksamana Muda Daniel Hagari, juru bicara IDF, mengonfirmasi kepada media bahwa Sinwar kemungkinan terluka di tangannya dan bersembunyi di gedung tersebut saat serangan terjadi.
Sinwar lahir di kamp pengungsi Khan Younis, Gaza selatan, dan terlibat dengan Hamas sejak awal pembentukannya pada tahun 1987 oleh Sheikh Ahmad Yassin, ketika intifada Palestina pertama dimulai.
Pada tahun berikutnya, ia mendirikan pasukan keamanan internal Hamas dan memimpin unit intelijen yang bertanggung jawab untuk menghukum warga Palestina yang diduga bekerja sama dengan Israel.
Sinwar dikenal sebagai tokoh yang tegas, bahkan melakukan eksekusi terhadap para informan.
Lulusan Universitas Islam Gaza ini menguasai bahasa Ibrani setelah 23 tahun dipenjara oleh Israel.
Sinwar dijatuhi empat hukuman seumur hidup karena terlibat dalam pembunuhan dua tentara Israel, tetapi dibebaskan pada 2011 sebagai bagian dari pertukaran tahanan dengan Israel yang melibatkan pembebasan tentara Gilad Shalit.
Setelah itu, Sinwar menjadi komandan senior Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, dan akhirnya memimpin Hamas di Gaza.
Berbeda dengan pendahulunya Ismail Haniyeh yang lebih moderat, Sinwar dikenal dengan pendekatan keras terhadap isu Palestina.
Ia dijuluki ‘dead man walking’, atau ‘orang mati berjalan’, karena Israel menganggapnya sebagai target utama.
Israel saat ini sedang memverifikasi identitas jasad yang diyakini sebagai Sinwar melalui sidik jari dan tes DNA, dan telah memberi tahu Amerika Serikat tentang pengujian ini.- ***
Dari berbagai sumber




