KITAINDONESIASATU.COM-Tahu putih dan mi kuning basah yang dijual pedagang di Pasar Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) mengandung formalin, dan kue mangkok menggunakan pewarna tekstil.
Hal tersebut sesuai dari temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan saat melakukan pengawasan di Pasar Serpong, Senin (25/5). Dari total 23 sampel pangan yang diuji, tiga di antaranya dinyatakan positif mengandung zat berbahaya.
“Sebanyak 23 sampel pangan yang kami ambil dari Pasar Serpong. Dari jumlah itu, ada tiga sampel yang mengandung bahan dilarang. Satu mi kuning basah, satu tahu putih mengandung formalin, dan satu kue mangkok mengandung pewarna tekstil Rhodamin B,” ungkap Kepala Balai POM Tangerang, M Sony Mughofir, kemarin.
Sony mengatakan, penggunaan pewarna tekstil pada makanan sangat berbahaya bagi kesehatan, karena bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker apabila terus menumpuk di dalam tubuh. “Pewarna tekstil itu sifatnya karsinogenik. Kalau terus dikonsumsi dan menumpuk di tubuh, risikonya bisa memicu kanker,” ujarnya.
Penggunaan Rhodamin B pada makanan, lanjut Sony, biasanya dipilih karena harganya murah, warnanya lebih mencolok, dan tidak mudah pudar. Akan tetapi, aspek kesehatan sering kali diabaikan oleh oknum produsen. “Karena murah, warnanya terang dan tahan lama. Kadang produsen hanya melihat dari sisi itu saja, bukan dari sisi kesehatannya,” katanya.
Selain pewarna tekstil, formalin juga masih kerap ditemukan pada pangan tertentu, terutama mi kuning basah dan tahu. Bahkan, BPOM sebelumnya juga menemukan ikan teri nasi dan jambal roti mengandung formalin di wilayah lain.
“Yang paling sering ditemukan memang mi kuning basah mengandung formalin. Untuk tahu ada yang positif, ada juga yang negatif, tergantung produsennya,” ujar Sony.
Sejatinya, formalin merupakan bahan pengawet nonpangan yang sangat berbahaya bila dikonsumsi manusia. Dalam dosis tinggi, formalin dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius hingga kematian. “Kalau dosisnya besar tentu sangat berbahaya, bahkan bisa fatal. Formalin itu bukan untuk makanan,” kata Sony.
Sony menyebut, penggunaan formalin pada tahu dan mie biasanya dilakukan karena biaya produksinya lebih murah dan mampu membuat produk lebih tahan lama di suhu ruang.
Sony menambahkan, masyarakat diminta lebih teliti saat membeli bahan pangan. Salah satu cara sederhana untuk mengenali tahu berformalin adalah dengan memperhatikan daya tahannya. “Kalau beli tahu, coba simpan di suhu ruang. Kalau sampai besok atau dua hari masih tidak basi, patut dicurigai mengandung formalin. Tahu normal, biasanya cepat basi,” tuturnya.
Sedangkan untuk makanan yang mengandung pewarna tekstil, ciri umumnya memiliki warna yang terlalu terang dan mencolok. “Kalau pewarna tekstil biasanya warnanya lebih cerah dan mencolok,” kata Sony. (*)

