KITAINDONESIASATU.COM – Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean Paul Van Gastel, menegaskan duel melawan Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5), bakal menjadi pertandingan hidup mati bagi timnya.
PSIM disebut tak punya pilihan lain selain menang jika ingin mewujudkan ambisi finis di posisi 10 besar Super League 2025/2026.
“Saya ingin PSIM mengakhiri musim di 10 besar dan itu hanya bisa tercapai kalau kami mengalahkan Arema,” ujar Jean Paul, Kamis (21/5).
Situasi klasemen membuat laga ini dipastikan berlangsung panas. PSIM dan Arema sama-sama mengoleksi 45 poin dari 33 pertandingan, namun Singo Edan masih unggul selisih gol sehingga berada satu tingkat di atas tim asal Yogyakarta tersebut.
Arema tercatat sudah mencetak 50 gol dan kebobolan 46 kali, sementara PSIM baru mengemas 42 gol dengan 41 kali kebobolan.
Karena itu, kemenangan di kandang Arema menjadi harga mati bagi PSIM jika ingin menutup musim dengan catatan membanggakan.
“Pertandingan ini sangat penting karena poin kami sama dengan Arema,” kata pelatih asal Belanda itu.
Tak hanya fokus pada laga penentuan, Jean Paul juga mulai menyiapkan rencana pasca kompetisi. Seluruh pemain PSIM disebut akan mendapat jatah libur untuk memulihkan kondisi sebelum memasuki persiapan musim baru. Ia ingin seluruh skuad kembali dalam kondisi bugar saat menyambut kompetisi 2026/2027.
Di sisi lain, striker PSIM Deri Corfe memastikan timnya datang ke Kanjuruhan dengan motivasi tinggi demi mencuri kemenangan dari tuan rumah.
“Kami ingin mendapatkan hasil terbaik agar bisa finis di 10 besar,” kata pemain asal Inggris tersebut.
Tak berhenti di situ, Deri juga terang-terangan memasang target pribadi untuk membobol gawang Arema demi membantu PSIM membawa pulang tiga poin penting. (*)


