Bisnis

Japfa dan Fapet UGM Bangun Farm Ayam Cage-Free, Jawab Tren Telur Sehat di Indonesia

×

Japfa dan Fapet UGM Bangun Farm Ayam Cage-Free, Jawab Tren Telur Sehat di Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260512 WA0022 scaled
Aktivitas ayam petelur di kandang sistem umbaran (cage-free) yang dikembangkan melalui kolaborasi Japfa dan Fapet UGM. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Meningkatnya permintaan global terhadap telur cage-free mendorong PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (Japfa) menggandeng Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) membangun model farm ayam petelur umbaran di Yogyakarta.

Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat pengembangan peternakan berkelanjutan sekaligus menjawab tren industri pangan yang kini semakin menekankan aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan.

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui operasional kandang ayam petelur sistem umbaran yang berlokasi di UGM Innovation and Agro-Technology Center. Sebagai dukungan awal, Japfa menyediakan hibah sebanyak 1.500 pullet (ayam dara siap bertelur), serta pasokan pakan selama fase produksi.

Momentum perkembangan telur cage-free di Indonesia meningkat signifikan sejak 2025, seiring semakin banyak perusahaan makanan yang mulai mengalihkan rantai pasok mereka ke sistem pemeliharaan tanpa kandang baterai atau umbaran (cage-free). Kolaborasi ini turut memperkuat perhatian terhadap isu tersebut, baik di kalangan industri perunggasan maupun akademisi.

“Model cage-free memungkinkan ayam bergerak lebih bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya. Ketika kesejahteraan hewan terpenuhi, tingkat stres menurun, yang berdampak positif terhadap produktivitas dan kualitas telur,” ujar Budi Guntoro, Dekan Fapet UGM saat acara serah terima hibah di kandang Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT), Fapet UGM, Selasa (21/4) lalu.

Ia menambahkan bahwa meskipun skala awalnya belum besar, model farm ini berfungsi sebagai basis ilmiah untuk menyediakan data produksi langsung bagi para peternak telur di seluruh Indonesia yang tertarik mengembangkan sistem ini.

“Fasilitas cage-free ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai platform riset untuk mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Arif Widjaja, COO Poultry Indonesia Japfa.

Arif menambahkan bahwa model farm ini menjadi tonggak penting dalam mendorong adopsi praktik peternakan yang lebih bertanggung jawab di kalangan produsen telur, khususnya bagi mereka yang ingin membedakan produknya dari pasar konvensional dengan menawarkan telur cage-free yang kini semakin diminati oleh Horeka dan perusahaan makanan global.

Sementara itu, Sandi Dwiyanto, Sustainable Poultry Program Manager di Lever Foundation, menyambut baik kolaborasi antara Japfa dan Fapet UGM, serta menekankan pentingnya inisiatif ini dalam mendorong transformasi industri perunggasan di Indonesia.

“Pengembangan model farm cage-free dalam lingkungan akademik seperti UGM memberikan fondasi penting untuk menghasilkan data ilmiah yang relevan dengan konteks Indonesia. Hal ini krusial untuk menjembatani kebutuhan industri, ekspektasi pasar global, serta peningkatan aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa permintaan global terhadap produk telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, perhotelan, restoran, serta perusahaan FMCG dan layanan makanan.

Tren ini diperkuat oleh survei konsumen yang dilakukan oleh GMO Research pada Juli 2025. Survei tersebut menunjukkan bahwa 72% konsumen percaya perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur cage-free dalam rantai pasoknya. Selain itu, 55% konsumen menyatakan lebih cenderung memilih merek makanan yang menggunakan 100% telur cage-free.

Lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah berkomitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free pada tahun 2025 atau 2027, termasuk KFC, Burger King, The Coffee Bean & Tea Leaf, Nestlé, Hyatt, dan Marriott Hotels. Selain itu, Swiss-Belhotel International Indonesia juga telah mengumumkan komitmennya untuk beralih sepenuhnya ke telur cage-free di 91 lokasi hotel.

Di tingkat nasional, sejumlah pelaku usaha seperti Superindo, Ismaya Group, Bali Buda, serta Jiwa Jawi juga telah mulai menerapkan atau sedang dalam proses transisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *