KITAINDONESIASATU.COM- Kampung Ketupat di RW 04 Kelurahan Cimahpar, Bogor Utara, menyimpan potensi besar sebagai sentra produksi ketupat yang tak hanya bertahan lintas generasi, tetapi juga mulai diarahkan menembus pasar nasional.
Mayoritas warga di Kampung Bojong menggantungkan hidup sebagai pengrajin kulit ketupat dan produsen ketupat siap jual. Tradisi ini telah berjalan cukup lama dan kini dilanjutkan hingga regenerasi anak, cucu.
Lurah Cimahpar, Arief Hidayat, mengatakan keberlanjutan kampung ini menjadi kekuatan utama yang terus dijaga sekaligus dikembangkan.
“Di RW 04 ini sudah lebih dari puluhan tahun. Yang berjualan sekarang sudah sampai cicit, jadi ini benar-benar usaha turun-temurun,” ujarnya, saat ditemui di kantor kecamatan Bogor Utara, Rabu 15 April 2026.
Untuk mendorong potensi tersebut, Kampung Ketupat Cimahpar menjadi lokasi binaan program P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera). Program ini menjadi pintu promosi yang memperluas jangkauan pasar hingga tingkat Jawa Barat (Jabar).
“Melalui P2WKSS, ini jadi ajang promosi Pemerintah Kota untuk menarik pembeli dan investor karena skalanya se-Jawa Barat,” kata Arief.
Selain itu, penguatan juga dilakukan dari sisi pemasaran. Warga mulai memanfaatkan digital marketing melalui media sosial (medsos) untuk memperkenalkan produk mereka ke pasar yang lebih luas.
“Produk mereka sudah dipasarkan lewat media sosial, termasuk Instagram, untuk menarik lebih banyak konsumen,” jelasnya.
Meski momentum penjualan meningkat saat Idulfitri dan Iduladha, produksi ketupat di Cimahpar berjalan setiap hari. Produk mereka didistribusikan ke berbagai pasar tradisional di Kota Bogor, seperti Pasar Anyar dan Jambu Dua, bahkan dibeli oleh pedagang untuk dijual kembali.
“Setiap hari mereka produksi dan kirim ke pasar. Bahkan banyak pembeli datang langsung ke kampung untuk ambil barang,” tambahnya.
Dengan kekuatan tradisi, dukungan program pemerintah, dan adaptasi pemasaran digital, Kampung Ketupat Cimahpar dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi ikon kuliner khas Bogor yang mampu menembus pasar nasional sekaligus menjaga warisan budaya lokal tetap hidup. (Nicko)
