KITAINDONESIASATU.COM – Keputusan pemerintah tetap akan mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun 2026 ini.
Namun ada syaratnya, keputusan ini hanya akan diberlakukan jika rata-rata harga minyak mendah dunia berada di bawah 97 Dollar AS per barel.
Keputusan ini telah diumumkan oleh Pertamina dan Pemerintah pada 31 Maret 2026 jika BBM bersubsidi tidak dinaikan seperti Pertalite dan Solar, seperti dikatakan Menko Ekonomi Airlangga Hartarto di Jakarta Senin (6/4/2026).
Kebijakan ini menurut Airlangga Hartarto berlaku sepanjang rata-rata harga minyak dunia tak melampaui US$97 per barel.
Hal yang sama juga diungkap Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2026 ini.
Ia memastikan anggaran negara masih mencukupi untuk menjaga kebijakan tersebut, pemerintah juga telah melakukan berbagai simulasi dengan asumsi harga minyak dunia mencapai US$100 per barel.
Dari perhitungan tersebut, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga di kisaran 2,9% terhadap Produk Domestim Bruto (PDB).
“Subsidi BBM tidak akan dihilangkan dan tidak akan naik sampai akhir tahun. Anggaran kami cukup,” ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, pemerintah juga memiliki bantalan fiskal berupa sisa lebih pembiayaan anggaran (SAL) sekitar Rp 420 triliun.
Dana tersebut dapat digunakan jika terjadi tekanan tambahan, seperti lonjakan harga minyak global yang tidak terkendali.
Menurut dia, kemungkinan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dalam jangka panjang relatif kecil. Hal ini mempertimbangkan dinamika global, termasuk kondisi politik di Amerika Serikat.
Karena itu, Purbaya meminta masyarakat tidak khawatir maupun berspekulasi terkait kondisi fiskal pemerintah.
Ia menegaskan seluruh kebijakan yang diambil telah diperhitungkan secara matang dan tetap dalam batas kemampuan anggaran negara.
Seperti kita ketahui dampak terjadinya perang Iran – Israel dan AS menyebabkan melambungnya BBM di seluruh dunia, termasuk di kawasan negara ASEAN.
Bahkan negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Filipina, Vietnam, Singapura, Malaysia telah menaikan harga BBM.
Sementara harga BBM di Timor Leste sejak negara ini merdeka dari Indonesia menggunakan mata uang Dollar Amerika Serikat USD, harga BBM di negara ini sejak awal seharga 1 USD per liter yang dipasok dari PT Pertamina Indonesia.
Sementara harga BBM di berbagai negara ASEAN melonjak tajam sejak Maret 2026 akibat konflik Timur Tengah, dengan Myanmar, Filipina, dan Laos mengalami kenaikan tertinggi.
Singapura mencatat harga tertinggi (Rp55.000/liter), sementara Vietnam, Thailand, dan Kamboja juga terdampak parah.
Namun berbeda dengan tetangganya, Indonesia hingga saat ini masih menahan harga subsidi di angka Rp10 ribu untuk per liter Pertalite dan Rp6,800 per liter untuk harga solar. **
