KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (7/4/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Mata uang Garuda tercatat turun 70 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp17.105 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait ancaman gangguan distribusi energi global. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan.
Ketidakpastian Global Tekan Sentimen Investor
Situasi memanas setelah Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan AS, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Pemerintah Iran justru menginginkan penghentian konflik secara permanen disertai jaminan keamanan serta pencabutan sanksi.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump disebut tetap bersikeras pada tenggat waktu yang telah ditetapkan, bahkan membuka kemungkinan langkah militer jika tuntutan tidak dipenuhi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko konflik yang lebih luas.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi indikator arah kebijakan suku bunga bank sentral. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia turut menunjukkan pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini.(*)



