KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026.
Mata uang Garuda turun sebesar 39 poin atau sekitar 0,23 persen menjadi Rp17.041 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.002 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh kenaikan tajam harga minyak dunia, khususnya jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI).
Lonjakan harga tersebut terjadi setelah penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini menjadi lintasan utama distribusi energi global.
Dampak Geopolitik Dorong Harga Minyak Melonjak
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak besar terhadap pasokan energi dunia.
Jalur tersebut diketahui dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global, sehingga gangguan di kawasan ini langsung memicu lonjakan harga.
Harga minyak Brent tercatat naik hingga 59 persen sepanjang Maret, sementara WTI melonjak sekitar 58 persen.
Kenaikan ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Amerika Serikat memberikan peringatan keras kepada Iran terkait pembukaan kembali jalur tersebut.
Situasi ini diperparah dengan potensi gangguan di Selat Bab al-Mandeb oleh kelompok Houthi di Yaman, yang dapat semakin menghambat distribusi energi global.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dari Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan ke level Rp16.999 per dolar AS.
Kondisi ini mencerminkan tingginya tekanan eksternal terhadap rupiah, terutama akibat ketidakpastian global dan fluktuasi harga komoditas energi.(*)


