KITAINDONESIASATU.COM – Pasar saham Indonesia dibuat gonjang-ganjing. IHSG ditutup anjlok tajam pada perdagangan Kamis (26/3) sore, terseret badai sentimen global yang dipicu memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks utama Bursa Efek Indonesia ini terperosok hingga 138 poin atau hampir 2 persen, menandai tekanan berat yang juga menghantam saham-saham unggulan dalam indeks LQ45.
Situasi ini dipicu oleh ketidakpastian negosiasi gencatan senjata yang tak kunjung jelas. Ketegangan geopolitik yang juga melibatkan Israel membuat harga minyak melonjak tajam, memicu kekhawatiran inflasi global bakal kembali menggila.
Dampaknya? Ekspektasi penurunan suku bunga pun terancam tertunda, membuat investor langsung bersikap waspada bahkan cenderung panik.
Tekanan tak hanya datang dari luar negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah ikut memperparah situasi, ditambah kekhawatiran membengkaknya beban fiskal akibat lonjakan harga energi.
Pelaku pasar kini memilih bertahan. Investor asing terus melakukan aksi jual, sementara dana global mulai kabur ke aset aman seperti dolar AS dan sektor energi—membuat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, makin tertekan.
Sejak dibuka menguat, IHSG langsung berbalik arah dan tak mampu keluar dari zona merah hingga penutupan. Hampir seluruh sektor terseret turun, dengan sektor energi, industri, dan bahan baku menjadi yang paling terpukul.
Sementara itu, bursa saham Asia juga kompak melemah, mempertegas bahwa tekanan ini bukan sekadar lokal—melainkan efek domino dari krisis global yang terus membayangi. (*)


