KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan kemenangan, tetapi juga momentum besar untuk menguatkan empati dan kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses penting dalam membentuk karakter yang lebih peka terhadap kondisi orang lain. Di balik rasa haus dan lapar, tersimpan makna mendalam tentang solidaritas sosial dan kepedulian bagi mereka yang hidup dalam kekurangan.
Menag menegaskan, gema takbir yang mengakhiri Ramahan bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga penanda kemenangan spiritual—yakni kemampuan menjaga nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan usai.
“Kemenangan sejati bukan sekadar kembali ke rutinitas, tapi bagaimana kita menjaga nyala kesalehan sepanjang tahun,” ujarnya, dalam keterangannya, Minggu (22/3).
Menag mengingatkan, Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk terus menebar kebaikan. Nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, dan kepedulian yang telah dilatih selama Ramadan harus tetap hidup dalam keseharian.
Menurutnya, keberkahan hanya akan hadir bagi mereka yang membuka hati dan aktif memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menutup pesannya, Menag menyampaikan ucapan selamat Hari Raya.
“Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga keberkahan, kedamaian, dan kerukunan senantiasa menyertai bangsa Indonesia.” (*)

