Berita UtamaKesehatanLifestyle

Detoks Alami Selama Puasa, Prof IPB Beberkan Cara Pertahankan Berat Badan Ideal Setelah Lebaran

×

Detoks Alami Selama Puasa, Prof IPB Beberkan Cara Pertahankan Berat Badan Ideal Setelah Lebaran

Sebarkan artikel ini
IMG 20260314 161349
Ilustrasi: Menu makanan sehat seimbang dengan buah dan sayuran segar sebagai pilihan untuk menjaga pola makan ideal selama dan setelah Ramadan. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Menjalani ibadah puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dapat menjadi titik balik membangun pola makan sehat jangka panjang. Momentum ini dinilai penting untuk “mereset” kebiasaan konsumsi masyarakat agar lebih seimbang, terukur, dan berdampak positif bagi kesehatan tubuh sekaligus spiritual.

Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof Hardinsyah, menekankan pentingnya menjadikan puasa sebagai titik awal membangun pola makan ideal yang berkelanjutan, baik dari sisi kesehatan maupun spiritual.

“Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi,” ujar Prof Hardinsyah, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Maret 2026.

Adaptasi Intermittent Fasting

Ia menjelaskan, pengaturan pola makan pascapuasa dapat diterapkan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting, yakni membatasi asupan dari segi jumlah, jenis, dan waktu makan. Pola ini diharapkan mampu membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.

Menurut Prof Hardinsyah, konsistensi menjadi tantangan utama dalam mempertahankan pola makan sehat setelah Ramadan. Perubahan pola pikir dan tekad kuat sangat dibutuhkan, terutama ketika kembali pada rutinitas harian.

“Untuk mempertahankan pola makan ideal ini membutuhkan mindset dan tekad yang kuat. Setelah bulan puasa, ujiannya akan lebih serius untuk mengubah mindset. Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikannya tanpa mengharapkan pahala,” jelasnya.

Transisi pola makan sehat dapat dimulai dengan membiasakan sarapan pagi untuk menekan risiko kolesterol. Selanjutnya, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari. Ia juga mengingatkan agar konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan dikendalikan.

Kebiasaan ini dapat terus dilatih, termasuk saat menjalankan puasa Syawal, ketika godaan berbagai hidangan kerap meningkat.

“Nafsu untuk memakan makanan berlemak dan manis serta makanan instan juga dikurangi. Kebiasaan ini bisa dilatih saat puasa Syawal,” tuturnya.

Sebagai alternatif, Prof Hardinsyah menyarankan konsumsi buah-buahan segar untuk membantu menekan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Buah dinilai mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus menyediakan serat dan vitamin.

Selain itu, pengaturan jenis dan porsi makanan juga perlu diperhatikan, dengan memperbanyak protein dibandingkan karbohidrat, menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu, seperti anak-anak dan ibu hamil.

“Kalau berat badan menurun menjadi berat badan normal maka harus dipertahankan. Ketika setelah dua minggu kemudian terasa lingkar pinggang bertambah maka pola makan harus kembali disesuaikan,” pungkasnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *