KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di pasar keuangan. Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (12/3) pagi, rupiah tercatat melemah 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.893 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp16.886 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia yang sempat melesat hingga menembus 100 dolar AS per barel.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama. Sejumlah laporan media menyebut dua kapal tanker minyak internasional diserang di dekat Irak, sementara Oman dilaporkan mengevakuasi terminal ekspor minyak utama. Situasi makin panas setelah Iran disebut memblokir Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Lonjakan harga energi tersebut membuat pasar global semakin khawatir terhadap potensi inflasi jangka panjang, yang bisa memicu kebijakan moneter lebih agresif dari bank sentral dalam beberapa bulan mendatang.
Di tengah situasi tersebut, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkali-kali menyatakan konflik Iran hampir berakhir, ketegangan antara AS–Israel dan Iran justru masih terus berlanjut.
Tekanan tambahan juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS Februari 2026 tercatat naik 0,3 persen secara bulanan, meningkat dari 0,2 persen pada bulan sebelumnya dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
Ibrahim menilai data inflasi tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor, terutama karena pasar masih menunggu rilis data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) yang menjadi indikator utama kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah ke level Rp16.899 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.867 per dolar AS.
Situasi global yang memanas dan ketidakpastian inflasi membuat pasar keuangan tetap waspada, sementara rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif mengikuti dinamika harga minyak dan kebijakan bank sentral dunia. (*)


