KITAINDONESIASATU.COM – Suasana Ramadan di ibu kota semakin meriah. Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan komitmennya untuk menghidupkan kembali tradisi Festival Bedug agar tetap lestari dan menjadi bagian penting dari perayaan bulan suci di Jakarta.
Hal tersebut disampaikan Pramono saat membuka Festival Bedug di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3). Ia berharap tradisi khas Ramadan itu tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi terus dijaga oleh masyarakat Jakarta dari generasi ke generasi.
“Mudah-mudahan tradisi Festival Bedug seperti ini di Jakarta bisa terus terawat dengan baik,” ujar Pramono.
Festival ini ternyata disambut antusias oleh berbagai komunitas. Awalnya terdapat 93 grup peserta dari berbagai wilayah Jakarta yang ikut ambil bagian. Namun setelah melalui proses seleksi ketat di tingkat kota dan kabupaten administrasi, hanya 16 grup terbaik yang berhasil melaju ke babak final tingkat provinsi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan hadiah pembinaan dengan nilai puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Juara pertama akan membawa pulang Rp25 juta, disusul juara kedua Rp20 juta, dan juara ketiga Rp15 juta. Bahkan penghargaan harapan juga disiapkan dengan nilai hingga Rp12,5 juta.
Tak berhenti di panggung kompetisi, para 16 finalis terbaik tersebut juga akan tampil dalam momen spesial malam takbiran di Bundaran Hotel Indonesia, salah satu ikon keramaian Jakarta.
Dalam sambutannya, Pramono menegaskan bahwa Festival Bedug bukan sekadar lomba, tetapi bagian dari upaya menjaga tradisi budaya sekaligus memeriahkan suasana Ramadan di Jakarta.
Ia bahkan membayangkan suasana ibu kota akan semakin hidup jika berbagai tradisi seperti festival bedug, pawai obor, hingga kegiatan komunitas digelar secara luas menjelang Idul Fitri.
“Saya yakin jika ada Festival Bedug, pawai obor, dan berbagai komunitas yang terlibat, suasana menyambut Idul Fitri di Jakarta pasti jauh lebih semarak dan membuat semua orang merasa memiliki Jakarta,” katanya.
Pramono juga mengungkapkan kenangan masa kecilnya yang tak lepas dari suara bedug di masjid. Ia mengaku dulu sangat senang memukul bedug, dan kenangan itu ingin ia hidupkan kembali di masjid-masjid Jakarta.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga dan merawat tradisi tersebut agar tetap menjadi simbol kebersamaan dan penguat silaturahmi di tengah kehidupan kota metropolitan.
“Ini yang akan mengakrabkan silaturahmi masyarakat Jakarta,” ujarnya. (*)



