Sosok

Xiye Bastida, Membawa Suara Masyarakat Adat ke Panggung Global

×

Xiye Bastida, Membawa Suara Masyarakat Adat ke Panggung Global

Sebarkan artikel ini
FotoJet 7 6
Xiye Bastida

KITAINDONESIASATU.COM – Xiye Bastida adalah seorang aktivis lingkungan yang lahir dan dibesarkan di San Pedro Tultepec, sebuah kota kecil di luar Mexico City dengan populasi sekitar 10.000 orang.

Dia mengalami langsung dampak perubahan iklim ketika kotanya menghadapi kekeringan ekstrem, diikuti oleh banjir besar saat musim hujan. Hal ini memaksa dia dan keluarganya untuk pindah ke New York City demi menghindari banjir.

Xiye, yang berarti “hujan lembut”, memiliki latar belakang keluarga yang peduli lingkungan.

Ayahnya merupakan penduduk asli Meksiko, sementara ibunya keturunan Eropa Chili, dan mereka adalah bagian dari kelompok Pribumi Otomi.

Sejak kecil, Xiye dibesarkan dengan prinsip bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, yang diajarkan oleh ayahnya. Pesan tersebut menumbuhkan kecintaannya terhadap alam dan membangkitkan semangatnya untuk beraktivitas sejak usia muda.

Keterampilan kepemimpinan Xiye mulai terlihat ketika dia berusia 15 tahun setelah pindah ke New York dan bergabung dengan klub lingkungan di sekolah menengah.

Dia aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari menonton film tentang daur ulang hingga menulis tentang isu-isu lingkungan. Pada Maret 2019, Xiye berhasil menggerakkan 600 siswa untuk ikut serta dalam pemogokan iklim pertama di sekolahnya.

Masyarakat adat, yang sering kali menjadi korban dampak krisis iklim, memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan. Mereka juga sering mengalami marginalisasi politik dan ekonomi, yang berujung pada pelanggaran hak asasi manusia dan hilangnya sumber daya.

Oleh karena itu, melindungi hak-hak mereka atas tanah sangat penting untuk mengatasi krisis iklim, mengingat tanah yang mereka kelola menyimpan 80% keanekaragaman hayati dunia, meskipun hanya mewakili kurang dari 5% populasi global.

Sebagai aktivis muda, Xiye memutuskan untuk mengesampingkan aktivitas remaja biasa demi belajar tentang kebijakan iklim. Dia percaya bahwa menjadi aktivis iklim berarti memiliki kemampuan berbicara yang baik, memahami ilmu pengetahuan, serta membawa perspektif yang unik.

Di usia 19 tahun, Xiye menjadi salah satu penyelenggara utama gerakan pemogokan iklim pemuda Fridays For Future.

Dia mengorganisir pemogokan dan berbicara mengenai isu-isu keadilan iklim di balai kota, serta duduk di komite administrasi Gerakan Iklim Rakyat, di mana dia menyuarakan harapan generasinya di tengah krisis iklim yang semakin memburuk.

Xiye juga salah satu pendiri Re-Earth Initiative, yang bertujuan untuk membuat gerakan iklim lebih mudah diakses oleh semua orang. Pada tahun 2018, ia diundang untuk berbicara tentang kosmologi Pribumi di Forum Perkotaan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-9 dan menerima penghargaan “Semangat PBB”.

Dari aksi Xiye Bastida, kita belajar pentingnya menjaga bumi. Banyak bencana yang terjadi mengingatkan kita untuk berani bertindak demi melindungi lingkungan.

Ketika kita menjaga lingkungan dengan baik, lingkungan pun akan memberikan manfaat bagi kita. Marilah kita peduli pada lingkungan demi masa depan anak cucu kita.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *