KITAINDONESIASATU.COM – Eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran dilaporkan telah memberikan hantaman keras terhadap stabilitas ekonomi Tel Aviv. Menurut laporan yang dihimpun, Israel diperkirakan mengalami kerugian finansial hingga Rp 50 triliun setiap minggunya selama masa peperangan berlangsung.
Angka fantastis ini mencakup biaya operasional militer yang sangat tinggi, termasuk penggunaan sistem pertahanan udara canggih seperti Iron Dome dan Arrow untuk mencegat serangan rudal serta drone. Selain biaya amunisi, mobilisasi ratusan ribu tentara cadangan juga melumpuhkan sektor produktif karena tenaga kerja yang seharusnya berada di kantor atau pabrik harus turun ke medan perang.
Sektor pariwisata, teknologi, dan konstruksi menjadi industri yang paling terdampak. Banyak proyek infrastruktur terhenti, sementara kepercayaan investor global terhadap pasar Israel mulai goyah akibat ketidakpastian keamanan.
Penurunan aktivitas ekonomi ini memaksa pemerintah Israel untuk melakukan penyesuaian anggaran besar-besaran, yang berisiko meningkatkan defisit negara secara signifikan. Demikian dilaporkan Times of Israel, Kamis 5 Maret 2026.
Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa jika konflik ini terus berlarut tanpa ada deeskalasi, Israel akan menghadapi resesi yang dalam.
Biaya pemulihan pasca-perang pun diprediksi akan membebani generasi mendatang, mengingat besarnya dana yang tersedot hanya untuk kebutuhan pertahanan dalam jangka waktu singkat.(*)

