Berita UtamaKesehatanLifestyle

Sering Semprot Parfum di Leher? Pakar IPB Ungkap Potensi Risiko Gangguan Tiroid

×

Sering Semprot Parfum di Leher? Pakar IPB Ungkap Potensi Risiko Gangguan Tiroid

Sebarkan artikel ini
IMG 20260225 152449
Ilustrasi pemakaian parfum. Penggunaan berlebihan, terutama di area leher, dinilai perlu diwaspadai karena berdekatan dengan kelenjar tiroid dan berpotensi menimbulkan gangguan hormon. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Kebiasaan menyemprotkan parfum di area leher kerap dilakukan agar aroma bertahan lebih lama. Namun, praktik ini belakangan menimbulkan kekhawatiran karena dinilai berpotensi memengaruhi kelenjar tiroid dan dikaitkan dengan risiko gangguan hormon hingga kanker tiroid.

Pakar Multiomics Cancer IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed, menjelaskan bahwa secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid, meskipun kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.

“Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,” ujarnya.

Baca Juga  Indonesia Tegaskan Dukungan Penuh untuk Kemerdekaan Palestina

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University itu memaparkan, parfum atau cologne umumnya mengandung bahan kimia seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Bahan-bahan tersebut berpotensi mengganggu sistem hormonal atau sebagai endocrine disruptors.

“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh,” terangnya.

dr Agil menambahkan, bahan-bahan tersebut dapat diserap melalui kulit. Tingkat penyerapan dipengaruhi oleh area pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan.

“Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis, sehingga paparan phthalates, paraben, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik,” jelasnya.

Baca Juga  Telur hingga Beras Naik Jelang Ramadan, Warga Kota Bogor Keluhkan Beban Belanja

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut tidak terjadi secara instan dan umumnya berlangsung perlahan. Tidak semua pengguna parfum juga akan mengalami gangguan kesehatan.

“Tidak berarti setiap orang yang memakai parfum akan sakit. Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya,” kata dr Agil.

Untuk meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang, ia menyarankan masyarakat tetap bijak dalam menggunakan parfum. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menyemprotkan parfum pada pakaian, bukan langsung ke kulit, menghindari pemakaian rutin di area leher atau ketiak, serta menggunakan parfum secukupnya.

Baca Juga  Puluhan Ribu Kendaraan Serbu Puncak, Kapolres Bogor Pastikan Arus Masih Terkendali

“Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan label ‘phthalate-free’ atau ‘paraben-free’,” tutup dr Agil. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *