KITAINDONESIASATU.COM- Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Rizal M Damanik, menegaskan bahwa puasa Ramadan bagi ibu menyusui tidak bersifat wajib dan memiliki ketentuan khusus dalam ajaran Islam. Hal ini penting dipahami agar kesehatan ibu dan bayi tetap terjaga selama bulan suci.
“Puasa Ramadan memang diwajibkan bagi umat Islam, tetapi bagi ibu menyusui ada dispensasi. Artinya, tidak wajib berpuasa dan dapat menggantinya dengan membayar fidiah,” jelas Prof Rizal, Rabu 18 Febuari 2025.
Meski demikian, Prof Rizal menyampaikan bahwa ibu menyusui tetap diperbolehkan menjalankan puasa apabila merasa mampu dan kondisi ibu serta bayi dalam keadaan aman. Namun, pelaksanaannya harus dilakukan secara bijak dan bertahap.
“Kalau ibu menyusui ingin berpuasa, sebaiknya dicoba dulu secara bertahap, misalnya setengah hari. Lihat apakah aman atau tidak, karena ibu menyusui tetap memiliki kewajiban utama untuk memenuhi kebutuhan ASI bayinya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa produksi ASI sangat dipengaruhi oleh asupan makanan ibu. Jika asupan gizi tidak tercukupi, produksi ASI berpotensi menurun dan dapat berdampak langsung pada bayi.
“Jangan sampai keinginan ibu untuk berpuasa justru membuat bayinya kekurangan ASI. Produksi ASI sangat tergantung pada apa yang dikonsumsi ibu,” tegasnya.
Menurut Prof Rizal, waktu sahur menjadi momen krusial bagi ibu menyusui untuk memenuhi kebutuhan gizi harian, mengingat durasi puasa dapat berlangsung lebih dari 12 jam setiap hari selama Ramadan.
“Pada saat sahur, ibu menyusui harus mengonsumsi makanan bergizi dengan komposisi yang lengkap, terutama protein dan lemak yang cukup. Jangan justru diet atau mengurangi porsi makan, karena itu bisa menurunkan produksi ASI,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal. Yang terpenting adalah komposisi seimbang dan variasi menu.
“Makanan bergizi itu tidak harus mahal. Yang penting ada protein, lemak cukup, karbohidrat, dan variasi menu. Jangan menunya itu-itu saja,” ujarnya.
Prof Rizal mencontohkan, sumber protein tidak hanya berasal dari daging, tetapi juga bisa diperoleh dari telur ayam, telur puyuh, serta bahan pangan lainnya. Konsumsi sayur dan buah juga dinilai sangat penting, termasuk pemanfaatan pangan lokal.
“Kita punya banyak sumber pangan lokal. Di Jawa Barat misalnya, ada palawija dan aneka sayuran yang bisa dimanfaatkan. Ini sangat baik untuk ibu menyusui,” tambahnya.
Selain makanan utama, Prof Rizal menyebutkan bahwa ibu menyusui dapat mengonsumsi sayur torbangun untuk membantu meningkatkan produksi ASI. Torbangun kini tersedia tidak hanya dalam bentuk sayur, tetapi juga kapsul.
“Sayur torbangun bisa dikonsumsi langsung atau dalam bentuk kapsul yang sekarang sudah banyak tersedia. Ini dapat membantu meningkatkan produksi ASI selama Ramadan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi yang baik bagi ibu menyusui memiliki dampak jangka panjang, tidak hanya bagi kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga dalam upaya menekan angka stunting.
“Pemenuhan gizi yang baik pada ibu hamil dan ibu menyusui sangat berkontribusi dalam mengurangi prevalensi stunting,” pungkasnya. (Nicko)

