KITAINDONESIASATU.COM – Bencana salju ekstrem mengguncang Jepang. Hujan salju terparah dalam beberapa dekade terakhir dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 30 orang hanya dalam dua pekan, memicu status darurat di sejumlah wilayah.
Salah satu kisah paling memilukan datang dari seorang perempuan lansia berusia 91 tahun yang ditemukan terkubur salju setinggi tiga meter tepat di depan rumahnya. Tragedi ini menjadi simbol ganasnya badai salju yang melumpuhkan Negeri Sakura.
Situasi genting tersebut memaksa pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengambil langkah drastis. Pada Selasa (3/2), pasukan militer Jepang diterjunkan untuk membantu daerah-daerah yang paling parah terdampak hujan salju ekstrem, sebagaimana dilaporkan stasiun televisi nasional NHK.
Otoritas setempat pun mengeluarkan peringatan darurat kepada masyarakat. Warga diminta ekstra waspada terhadap longsoran salju, serta bahaya tumpukan salju dari atap rumah yang bisa jatuh sewaktu-waktu dan mengancam keselamatan jiwa.
Tak hanya itu, pemerintah juga memperingatkan potensi pemadaman listrik massal di wilayah terdampak paling parah akibat beban salju yang terus menumpuk, menurut laporan Al Jazeera.
Di wilayah utara Jepang, Kota Aomori menjadi salah satu titik terparah. Hingga Selasa, tinggi tumpukan salju di kota tersebut mencapai 175 sentimeter, lebih dari dua kali lipat rata-rata musim dingin normal.
Bahkan sehari sebelumnya, akumulasi salju di beberapa area Aomori sempat menyentuh 183 sentimeter, memecahkan rekor 40 tahun yang sebelumnya tercatat pada 1986 dengan tinggi 181 sentimeter.
Gubernur Aomori Soichiro Miyashita mengungkapkan telah secara resmi meminta bantuan militer untuk penanganan bencana, dengan prioritas utama menyasar warga lanjut usia, khususnya mereka yang tinggal sendirian dan kesulitan membersihkan salju di sekitar rumah.
Badai salju ini pun disebut sebagai salah satu musim dingin paling mematikan di Jepang, dengan ancaman masih membayangi jika cuaca ekstrem berlanjut. (*)


