KITAINDONESIASATU.COM – Jumlah korban jiwa dalam tragedi maut di kawasan tambang emas ilegal, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, dilaporkan kembali bertambah. Hingga Kamis (22/1), total korban tewas akibat paparan gas beracun di dalam lubang tambang kini mencapai 11 orang.
Seluruh korban merupakan penambang tanpa izin atau “gurandil” yang berasal dari beberapa wilayah di Bogor Barat.
Berdasarkan data kepolisian, sebaran korban meliputi enam warga Desa Bangun Jaya (Cigudeg), tiga warga Desa Urug (Sukajaya), dan dua warga Desa Malasari (Nanggung). Mayoritas korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kedalaman lubang yang saling terhubung.
Penyebab utama kematian massal ini diduga kuat berasal dari asap pembakaran atau gas beracun yang terperangkap di dalam jaringan “lubang tikus”. Kondisi oksigen yang tipis di bawah tanah mempercepat fatalitas saat gas tersebut menyebar.
Tim SAR gabungan dari Polri, Basarnas, dan pihak PT Antam sempat kesulitan melakukan evakuasi karena medan yang sempit dan risiko gas susulan yang masih tinggi.
Kapolda Jawa Barat, Irjen Rudi Setiawan mengungkapkan seluruh korban berjumlah 11 orang sudah diserahkan kepada keluarga masing-masing. “Kami ikut duka cita atas musibah ini. Kami masih mengusut penyebab tewasnya para korban. Pasalnya, karbon monoksida (CO) di dalam tambang masih batas aman,” ujarnya kepada wartawan, Kamis 22 Januari 2026.
Polda Jawa Barat kini telah menutup akses ke area lubang maut tersebut guna menghindari jatuhnya korban tambahan. Pemerintah daerah setempat juga mengimbau warga untuk segera melapor ke posko darurat jika masih ada anggota keluarga yang belum kembali.
Tragedi ini kembali memicu desakan publik terkait pengawasan ketat terhadap aktivitas tambang ilegal yang terus memakan korban jiwa.




