KITAINDONESIASATU.COM – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin tak terbendung. Pada perdagangan Senin (19/1/2026), harga jual dolar Amerika Serikat (AS) di sejumlah money changer di Jakarta dan kota-kota besar lainnya resmi menembus angka psikologis Rp17.000. Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan pelaku usaha yang bergantung pada impor.
Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa gerai penukaran valuta asing mematok kurs jual di kisaran Rp17.010 hingga Rp17.035.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia berada di posisi Rp16.964. Di pasar offshore, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp16.981 sebelum akhirnya sedikit tertahan oleh intervensi bank sentral.
Analis pasar uang menilai pelemahan tajam ini merupakan dampak dari “badai sempurna” geopolitik dan ekonomi global.
Ancaman tarif impor baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan Washington, serta kekhawatiran atas independensi The Fed, menjadi pemicu utama investor menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets).
“Angka Rp17.000 adalah level yang sangat krusial. Jika tidak segera diredam dengan intervensi masif dari Bank Indonesia, tekanan inflasi akibat kenaikan biaya impor barang pokok akan langsung dirasakan masyarakat dalam waktu dekat,” ujar Lukman Leong, analis Doo Financial Futures.(*)

