KITAINDONESIASATU.COM – Operasi pencarian dan penyelamatan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan kini memasuki tahap paling krusial. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) akhirnya berhasil mengevakuasi satu korban dari jurang ekstrem di kawasan Bukit Bulusaraung, wilayah Pangkep–Maros, Minggu (18/1), setelah berjibaku dengan medan berbahaya dan cuaca yang tak menentu.
Korban ditemukan di titik jatuhnya pesawat yang berada di jurang terjal dengan kedalaman sekitar 200 meter. Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menyampaikan korban berhasil ditemukan pada pukul 14.20 WITA di koordinat 04°54’44” Lintang Selatan dan 119°44’48” Bujur Timur.
“Korban berada di jurang dengan kedalaman kurang lebih 200 meter. Saat ini proses evakuasi masih berlangsung,” ujar Edy Prakoso saat dikonfirmasi dari Jakarta, Minggu.
Kepala Kantor SAR Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC) memastikan korban berjenis kelamin laki-laki dan ditemukan tak jauh dari serpihan badan pesawat. Evakuasi dilakukan dengan metode khusus vertical rescue menggunakan rangkaian tali-temali, mengingat lokasi berada di medan ekstrem yang curam dan sangat berisiko. Korban kemudian dievakuasi melalui jalur pendakian untuk dibawa ke posko utama guna proses identifikasi lebih lanjut.
Selain mengevakuasi korban, tim SAR juga menemukan sejumlah serpihan pesawat lainnya di sekitar lokasi kejadian, mulai dari bagian rangka hingga kursi penumpang. Temuan tersebut semakin menguatkan posisi jatuhnya pesawat yang sebelumnya sempat dinyatakan hilang kontak.
Meski satu korban telah berhasil dievakuasi, Basarnas menegaskan operasi SAR masih terus berlanjut. Tantangan berat masih membayangi tim di lapangan, mengingat lokasi berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dengan kondisi cuaca yang berubah cepat dan berpotensi membahayakan keselamatan personel.
Penyisiran lanjutan dilakukan secara intensif untuk mencari penumpang dan awak pesawat lainnya yang diduga masih berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Basarnas memastikan seluruh upaya dilakukan secara maksimal dengan tetap mengedepankan faktor keselamatan tim SAR.
Operasi pencarian besar-besaran ini melibatkan sekitar 376 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, serta unsur potensi SAR lainnya, termasuk Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) yang turut membantu penelusuran di medan pegunungan terjal.
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT sebelumnya dilaporkan hilang kontak dan ditemukan pada Minggu pagi di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan. Berdasarkan data manifest penerbangan terbaru, pesawat tersebut mengangkut 10 orang, termasuk awak pesawat.
Di dalam pesawat, tercatat tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan sebagai analis kapal pengawas, Deden Mulyana selaku pengelola barang milik negara, serta Yoga Naufal yang bertugas sebagai operator foto udara.
Basarnas menegaskan operasi pencarian dan evakuasi akan terus dilakukan hingga seluruh korban berhasil ditemukan, meski harus berpacu dengan waktu, cuaca ekstrem, dan medan paling berbahaya di Sulawesi Selatan. (*)


