KITAINODNESIASATU.COM — Myanmar kembali menjadi sorotan internasional saat negara tersebut sedang menggelar pemilihan umum (pemilu) tiga tahap di tengah berlanjutnya perang sipil dan tekanan politik setelah kudeta militer 2021. Tahap kedua pemilu berlangsung pada 11 Januari 2026, lebih dari dua minggu setelah putaran pertama pada akhir Desember 2025, sementara tahap terakhir dijadwalkan pada 25 Januari 2026.
Dilansir dari Wikipedia, sejak kudeta militer pada 1 Februari 2021 yang menggulingkan pemerintahan demokratis perdana Aung San Suu Kyi, pemerintahan junta yang dipimpin oleh Senior General Min Aung Hlaing telah mencoba melakukan pemulihan legitimasi melalui gelaran pemilu besar-besaran pertama sejak kudeta tersebut. Namun pemilu ini dilihat oleh banyak pihak, termasuk negara barat, organisasi HAM, dan pemantau internasional, sebagai upaya untuk mengamankan kekuasaan militer dan memperkuat kontrol politik, bukan sebagai proses demokratis sejati.
Konstitusi Myanmar tetap memberi jatah 25% kursi di parlemen untuk militer secara langsung, memberikan kekuatan signifikan kepada struktur militer dalam badan legislatif meski suara populer rendah. Selain itu, banyak partai oposisi tradisional yang menentang junta telah dilarang atau memilih untuk boykot pemilu ini karena dianggap tidak fair dan berbahaya bagi pendukung mereka.
Table of Contents
Tahap Kedua Pemilu dan Kondisi di Lapangan
Pada tahap kedua pemilu yang baru berlangsung, pemungutan suara dilakukan di sekitar 100 township dari total 330, termasuk di wilayah Sagaing, Magway, Mandalay, Bago, dan wilayah lain yang rawan konflik. Meskipun junta melaporkan adanya antusiasme dengan klaim partai pro-militer Union Solidarity and Development Party (USDP) memimpin dengan jumlah besar suara yang dikumpulkan dari tahap-tahap awal, jumlah pemilih secara keseluruhan dinilai tetap rendah terutama di kawasan urban besar.
Hasil akhir putaran kedua menunjukkan bahwa partai USDP, yang dipandang sebagai kendaraan politik bagi militer, berhasil memperkuat posisinya dengan meraih mayoritas besar dari kursi yang diperebutkan dalam putaran ini, dilaporkan lebih dari 86 dari 100 kursi. Jika tren ini berlanjut sampai putaran ketiga, analis politik memperkirakan partai militer akan melakukan dominasi parlemen menjelang pembentukan pemerintahan baru pada April mendatang.
Organisasi hak asasi manusia dan pemerintah internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, terus mengkritik penyelenggaraan pemilu tersebut. Mereka menyebut bahwa proses ini tidak memenuhi standar pemilu bebas dan adil karena:
- Penghilangan besar-besaran partai oposisi, termasuk pembubaran partai-partai politik pro-demokrasi.
- Penahanan banyak tokoh politik dan aktivis oposisi di bawah undang-undang yang membatasi kebebasan berpendapat.
- Akses yang sangat terbatas terhadap kawasan tanpa keamanan di mana perang sipil masih berlangsung.
Kekhawatiran juga muncul terkait laporan konflik bersenjata di beberapa wilayah, yang menyebabkan akses ke TPS (tempat pemungutan suara) menjadi sangat berbahaya bagi warga sipil. Banyak komunitas di daerah terpencil yang memilih untuk tidak berpartisipasi sama sekali karena takut terhadap serangan militer atau kelompok pemberontak yang aktif.
Dampak Politik dan Internasional
Laporan yang dirilis oleh pemantau internasional menilai bahwa hasil pemilu ini kemungkinan besar akan memperkuat dominasi militer di jabatan pemerintahan, yang dapat memperpanjang isolasi diplomatik Myanmar dari banyak negara demokrasi di Barat. Sanksi ekonomi dan pembatasan kerja sama militer yang telah diterapkan sejak 2021 kemungkinan tetap berlaku jika tidak ada langkah signifikan menuju reformasi politik dan perlindungan HAM.
Sementara itu, konflik sipil yang telah berlangsung bertahun-tahun menimbulkan krisis kemanusiaan yang luas, memaksa jutaan warga mengungsi di dalam negeri dan memperburuk kondisi ekonomi serta sosial bagi banyak keluarga. Situasi di lapangan tetap dinamis dan penuh ketidakpastian, terutama menjelang fase terakhir pemilu yang akan menjadi penentu peta politik Myanmar untuk tahun-tahun mendatang.
(BiiHann ^^)


